“I want to travel around the world only with @zhienjie.”
Jie terkaget saat membaca kalimat tersebut di tab mention. Satu kalimat yang cukup membuat darah di sekujur tubuh Jie berdesir dan memberi sensasi hangat di kedua pipinya yang mulai merona. Jie membalas mention tersebut.
“I do too.”
Reply
Beberapa saat kemudian, LED merah berkelap-kelip di sudut kanan atas BlackBerry-nya. Bukan mention baru di twitter, tapi satu pesan di BBM.
“So, will you travel around the world only with me?”
Jie hanya tersenyum simpul dan mengetik, “For sure!”
Percakapan di BBM berlanjut, dan Jie semakin terlarut. Ia seakan lupa pada bentang jarak yang memisahkan dirinya dengan Zack. Jie juga mulai mengabaikan kalau Zack hanyalah teman baiknya di dunia maya yang belum pernah bertemu sekali pun di dunia nyata. Ia berpikir bahwa percakapan tersebut hanya sekadar keisengan pengisi waktu luang. Bagaimana mungkin dia dan Zack bisa berkeliling dunia bersama — sementara mereka belum pernah bertemu sebelumnya?
Jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam, dan Jie baru saja ‘berpamitan’ dengan Zack di BBM. Ia merebahkan tubuhnya, tapi masih memikirkan Zack dan rencana mereka untuk keliling dunia bersama. Apa itu mungkin?Apa Zack sebaik yang kukenal di dunia maya? Bagaimana kalo Zack hanya ingin memperdayaiku?Berbagai pertanyaan dalam benaknya berkelebat, menahan kantuknya.
Tahun 2009, Jie menemukan Zack Wijaya — sosok asing yang meminta pertemanan dengannya di akun Facebook. Dengan sembarangan dan tanpa maksud apa-apa, Jie menerima pertemanan itu. Mulanya mereka sekadar saling menyapa, kemudian saling bercerita, membagi apa saja. Apalagi foto profil Zack terlihat begitu tampan. Jie semakin merasa nyaman dengan kehadiran Zack. Seiring waktu, dan seiring bertambahnya kedekatan mereka di dunia maya, Jie dan Zack tak hanya sekadar dihubungkan oleh Facebook semata, tapi mulai merambah ke Twitter, hingga BBM. Zack pun semakin sering meneleponnya, setidaknya seminggu sekali.
Jie semakin merasa bahwa kehadiran Zack memiliki arti yang istimewa dalam mengisi hari-harinya. Saat sedang gundah, Zack adalah orang pertama yang menjadi tempat curahan hatinya. Saat sedang sakit, Zack pun tak segan memberi perhatian intens melalui telepon-teleponnya. Zack seolah memiliki kepekaan yang tinggi saat ia sedang senang ataupun sedih, tanpa Jie perlu memberi tahunya terlebih dulu. Jie merasakan sebuah ikatan batin di antara mereka berdua. Lamat-lamat, muncul keraguan dan kegundahan dalam hati Jie. Apakah ia benar sedang jatuh cinta pada Zack? Perempuan mana yang tidak akan terbuai dengan perhatian berlebihan dari seorang lelaki yang secara intens menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari 3 tahun? Batinnya tak henti-henti bertanya-tanya dan menjawab-jawab sesuai prasangkanya sendiri.
Namun kisah cinta ini seolah begitu sederhana. Gayung bersambut, karena pada akhirnya Zack pun mengungkapkan perasaan cintanya pada Jie.
“Bagaimana mungkin kamu bisa jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah sekali pun bertatap muka denganmu? Bagaimana jika aku bukanlah seperti yang kamu bayangkan selama ini? Bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang absurd?” Berbagai pertanyaan berhamburan dari mulut Jie, sesaat setelah Zack mengakui perasaan cintanya di telepon. Akal sehatnya yang menggiring sikapnya untuk menampik cinta Zack. Jie masih merasa tak siap dengan hubungan yang di matanya terasa absurd.
Tapi rupanya Zack mampu bersikap dewasa. Dia bukanlah lelaki yang memperlakukan Jie sebagai musuhnya ketika cintanya ditolak. Mereka berdua malah bersepakat untuk merasa cukup dengan sekadar menjadi teman baik. Kenyataannya, hubungan pertemanan mereka memang menjadi semakin baik, semakin dekat. Setidaknya sampai malam ini, ketika Jie dibuatnya tak bisa tidur memikirkan keseriusan rencana traveling bersama Zack.
“Kita ke Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan kapal ferry. Setelah itu naik sleeping bus ke Malaysia, lalu ke Thailand,” jelas Zack, dalam pembicaraan telepon mereka.
“Kenapa rutenya panjang begitu? Aku bisa mabuk laut lho kalo harus nyebrang ke Singapura naik kapal ferry.”
“Tenang saja, Jie. Kalau di sampingku, kamu pasti nggak bakal mabuk laut. Bahuku ini akan menjadi tempatmu bersandar saat menikmati sapuan ombak di laut.” Zack mulai mengeluarkan jurus rayuannya.
“Ihh apaan sih? Aku memang nggak suka naik kapal. Dulu, waktu SD, aku…”
“Iya, dulu waktu SD kamu pernah mabuk laut parah sampe muntah-muntah, kan?”
“Kok kamu tahu sih?”
“Kamu kan udah pernah cerita, Jie. Waktu SMA juga kamu urung ikutan study tour karena harus naik kapal laut. Waktu itu kamu sampai dimarahi wali kelas dan dikasih nilai merah di raport. Hihii…”
“Ihh ngeledek! Ngeselin tahu nggak?” Jie pura-pura merasa kesal.
“Hahahaha, becanda kok, Jie. Becanda. Lagian udah gede masih aja takut naik kapal laut? Gimana mo ngarungi bahtera rumah tangga bareng aku?”
“Apa? Kamu barusan ngomong apa? Ihh! Aku delete dari kontak BBM, lho ya…”
“Hihihi… judes banget. Becanda, Sayang, eh Jie. Jadi, intinya kamu tenang aja, ntar aku jamin kamu nggak bakalan mabuk laut. Bukan traveler namanya kalo maunya naik alat transportasi yang enak-enak aja. Malah dengan merasakan semua jenis alat transportasi, perjalanan itu akan semakin hidup dan berkesan. Don’t you think so?”
“Iya deh iya. Aku mau aja naik kapal laut. Tapi janji yah aku nggak bakalan mabuk laut.”
“Yap! Cinta ini jaminannya. Eh..”
“Ihh!”
“Becanda! Bobo gih sana, besok pagi aku telepon, yah. Mimpi indah, Jie. Semoga nggak mabuk laut di mimpinya.”
“Iya, Kapten!”
Jie masih tersenyum-senyum sendiri setelah membaca lagi kutipan percakapan dengan Zack di BBM.
“Ke Thailand bareng dia, mungkinkah?” — Itulah twit terakhir yang diposting Jie sebelum memutuskan untuk tidur.
“Hooooaaam… Semoga nggak mabuk laut di mimpi.” Ucap Jie pelan, mengutip kembali ucapan Zack di BBM, sambil menyelimuti badannya.
Jie terlonjak dari atas kasur saat mendengar handphone berdering. “Sial! Siapa yang sepagi ini udah nelpon? Ganggu orang lagi tidur aja.” Umpatnya dalam hati.
Dengan gerakan malas, diraihnya handphone yang diletakkan di atas meja belajar di sebelah kasur.
***
“Hallo, selamat pagi, Jie. Gimana mimpinya? Nggak mabuk laut, kan?” Suara yang tak asing terdengar di ujung telepon.
“Ihh! Masih pagi lho, Zack! Kenapa udah ngajak orang berantem sih?” Jawab Jie ketus sambil menguap.
“Hmm, aku cuma mo minta kepastian aja nih tentang rencana traveling kita. Kalau deal, pagi ini aku bisa atur itinerary-nya supaya ntar gak ribet. Dua minggu lagi kita berangkat.”
“Hah? Dua minggu lagi? Duh, Zack! Aku mikir-mikir dulu, yah. Nggak mungkin lah secepat ini aku langsung jawab iya.”
“Oke, kamu mikir-mikir dulu aja yah, Jie. Ntar jam 10 aku telepon kamu lagi dan kepastiannya harus sudah ada. Oke?”
“Iya…iya.”
Percakapan di telepon berakhir seiring hilangnya rasa kantuk Jie. Dia mulai memikirkan tentang rencana traveling ini.
2 minggu lagi? Duh! Apa aku sudah siap? Batin Jie, masih merasa bimbang dengan rencana yang baginya sedikit gila.