Thursday, July 24, 2014

Tentang Rasa Memiliki

Rasa memiliki ibarat sebuah koin; di satu sisi ia membuat kita nyaman, di lain sisi ia membuat kita was-was.

Waktu menunjukkan pukul 02:30 ketika aku terbangun dari tidurku yang singkat dengan perasaan sedih yang tak bisa digambarkan. Mungkin kesedihan itu muncul sebagai imbas dari mimpi buruk. Dalam mimpi itu aku harus kehilangan beberapa teman yang kukasihi.

Setelah berhasil menenangkan diri dengan minum segelas air hangat, aku kemudian mencoba menganalisa apa yang baru saja kualami. Kenapa aku bersedih ketika harus kehilangan teman-temanku? Jawaban yang mengerucut kemudian adalah: karena aku merasa memiliki mereka.

Perasaan memiliki yang awalnya membuatku merasa nyaman ketika berada di samping teman-temanku ternyata bisa juga menjadi sumber kerapuhan. Aku (terlalu) takut kehilangan mereka, sehingga saat itu seakan benar terjadi (yakni lewat mimpi) ada kesedihan luar biasa yang cukup sulit untuk kutanggulangi.

Pertanyaannya, salahkah bila merasa memiliki?

Friday, July 11, 2014

Akibat dari Keseringan Duduk di Warung Kopi

Picture is taken from here XD
Faktanya, orang yang sering duduk di warung kopi mempunyai tingkat kesabaran lebih tinggi dibanding yang tidak.
Kenapa saya bisa bilang demikian? Karena ada beberapa orang yang hanya duduk sendirian menikmati secangkir kopi hangat tanpa melakukan apa pun selama beberapa jam. Contohnya diri saya. Saya bisa menghabiskan beberapa jam hanya duduk menikmati segelas kopi hangat kesukaan saya. Mungkin bagi beberapa orang itu adalah hal yang amat sangat membosankan, tapi buat saya itu adalah bagian dari melatih kesabaran dan tempat di mana saya mempunyai keinginan untuk memulai menulis, tak tahu apa karena saya punya bakat menulis atau hanya sekadar iseng belaka. Tapi semenjak duduk di warung kopilah, rasa ingin menulis saya sangat kuat.
 

Dan sampai kapan pun, warung kopi akan menjadi tempat favorit saya.

Saturday, April 12, 2014

Untuk Kakek Bermantel Oranye


Matahari belum juga mengintip dari balik awan ketika kau dengan langkah pasti menyusuri jalanan yang tentu saja masih lengang. Aku tak sengaja sudah mengikutimu dari belakang. Jogging. Hal yang kusukai dan mulai kugalakkan untuk menjadi bagian dari hobi, yang kurasa juga adalah hal yang sama yang kaugemari.

Langkah kaki kita seirama. Kiri, kanan, berganti kiri, lalu kanan lagi, dan seterusnya. Panjangnya jarak tempuh tak menjadi masalah karena kesejukan dan aroma pagi yang menyapa seolah menjadi teman setia penghangat hati. Kau mungkin tak menyadari kehadiranku di belakangmu yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 5 meter darimu.

Di saat manusia-manusia lain masih terlelap di bawah selimut, kau dan aku sudah berani menantang pagi dengan kaki yang bergerak maju. Usiamu mungkin terpaut jauh dariku. 50 tahun, mungkin. Tapi aku bisa merasakan semangatmu menulariku lewat setiap jejak yang kautorehkan di jalan.

Kakek bermantel oranye, terima kasih karena meski tanpa kausadari, kau telah menjadi temanku jogging di pagi ini. Aku jadi semakin mencintai hobiku ini karena banyak sisi kehidupan yang bisa kulihat dan mustahil kudapati jika saja aku lebih memilih meladeni kantuk. Salah satunya adalah dirimu. Kau mengajariku bahwa usia bukanlah penghalang untuk memelihara gaya hidup sehat. Tubuh boleh saja dimakan usia, tapi ketika semangat tetap berkobar kurasa itulah hakikat dasar kehidupan: menghargai tiap desah napas dengan terus bergerak karena hal tersebut sudah menjadi kodrat manusia sebagai makhluk dinamis.

Monday, April 7, 2014

Morning Person. Am I?

Though I was born in the morning, but I’m not a kind of a what-they-so-called morning person. Waking up in the morning is such an impossible thing for me to do. That’s why when I said I’m going to do jogging almost every morning (or even dawn), people laughed out loud cause they took my decision as a joke.

So, to prove it, I try hard waking up in the morning and do jogging. And, guess what… I did it! Again, I DID IT! You must be proud of me. Indeed. Hahahahaahaa…

So, here are some pictures I’ve taken (as a proof) when I did jogging in some chances. Thank God, I’m no longer a night owl but I’ll proudly say that I AM A MORNING PERSON! Hohohohohoo… ^^
*some pictures might be blur cause the resolution in my camera is not as good as I hope. ._.





Friday, April 4, 2014

Catatan Kecil Sebelum Hari Pernikahan


Picture is taken from here
Seminggu sekali, waktu yang kurasa tak pernah cukup untuk menuntaskan kerinduan bertemu denganmu. Kadang kita bercerita begitu intens, namun tak jarang pula hanya bercakap seadanya. Sejak rasa itu menelisik dalam dada, aku jadi salah tingkah apalagi ketika kamu menatap mataku begitu dalam, jantungku rasanya hendak meloncat!

Sudah 3 bulan sejak pertama kali kamu mengulurkan tangan kananmu sembari menyebutkan namamu. Sudah 3 bulan pula nama tersebut tersimpan di benakku, dan tak jarang kusebutkan di kala aku merapal doa setiap hari. Kamu, dengan segenap kepolosan pun kelembutanmu telah membuat hatiku jatuh telak. Aku tak bisa menyangkal tentang rasa itu yang kini menghinggap di dada.

Jumat kemarin, lagi-lagi kamu mengusikku. Minta dijemput. Waktu itu hujan turun tak sebegitu derasnya, tapi dengan suara manjamu di telepon kamu berhasil membujukku untuk datang menjemputmu. Aku pura-pura keberatan dan memintamu untuk datang sendiri saja, tapi sekuat apakah aku sampai bisa menahan rayuan suara merdumu?

Aku pun melangkah menantang hujan di malam yang dingin bertemankan sebuah payung cokelat yang kugenggam erat. 15 menit berselang, aku tiba di depan rumahmu. Kamu menyambutku dengan senyum manis yang sangat kurindukan. Aku memanggilmu, tapi kamu malah menyuruhku menjemputmu sampai ke teras rumah. Awalnya aku menggelengkan kepala, setelahnya? Kaki ini dengan ringan melangkah ke arahmu.

Kita pun berjalan bersisian, melewati jalanan yang masih saja diguyur hujan. Refleks, tanganmu menggamit tangan kananku yang tengah memegang payung. Aku, tentu saja, pura-pura bertindak biasa saja. Padahal sesungguhnya aku merasa seperti roket yang melesat ke angkasa.

Rumah yang hangat itu kembali menyambut kita. Rumah tempat kamu dan aku juga teman-teman kita sesama ambivert menghabiskan waktu. 2 jam saja, seminggu sekali yaitu tiap hari Jumat, kita akan berkumpul di rumah itu. Berdiskusi tentang apa saja, sesekali berekreasi, memasak bersama, atau jika ada yang ingin menyendiri untuk membaca, tak ada yang akan melarang. Itulah mengapa kita semua begitu betah berada di rumah itu.

Aku, sebagai seseorang yang katakanlah sudah cukup senior di "Klub Ambivert", begitulah namanya, merasa senang ketika mendapati ada saja pertambahan setidaknya 1 anggota baru setiap bulan. Dan 3 bulan lalu, kamulah anggota baru itu. Kamu, yang mengaku juga adalah seorang ambivert merasa perlu untuk bergabung di perkumpulan ini. Karena sama sepertiku yang rindu berkumpul tapi juga tak jarang ingin menyendiri, kamu pun demikian.

Sejak mengetahui aku dulu kuliah di jurusan yang sama dengan yang sementara kamu tekuni, kita pun menjadi lebih dekat. Berawal dari berbagi pengalamanku tentang perkuliahanku dan segala tetek-bengek yang berhubungan dengannya, kamu mulai bertanya tentang kehidupan pribadiku. Aku, tentu saja, tak akan begitu mudahnya terbuka kepada kenalan baru meski kamu, tanpa kutanya, bisa berbagi tentang kehidupan pribadimu. Aku merasa semakin mengenalmu sementara aku masih merahasiakan beberapa hal dalam diriku yang kurasa tak perlu kamu ketahui.
"Selamat tidur. Tak sabar rasanya menunggu seminggu berlalu supaya bisa berkumpul lagi di 'Klub Ambivert'. Hihii..."
1 pesan singkat darimu mengusikku yang tengah asyik membaca buku. Pesan bernada sama seperti yang kamu kirimkan selama beberapa minggu terakhir. Lagi-lagi, sengaja tak kubalas karena aku bisa memprediksikan apa yang akan terjadi setelahnya...