Tuesday, April 7, 2015

Dasar Orang Gila!

credit
Pernahkah merasa bahwa semesta berkonspirasi membuatmu terasing? Seolah kamu sebenarnya alien yang berasal dari planet Mars namun untuk alasan yang entah malah terdampar di bumi bersama para manusia yang bertingkah "aneh" di matamu? Jika pernah, yuk sama-sama panggil UFO untuk datang menjemput.

Bom waktu telah meledak; menyerakkan fatamorgana yang selama ini mengalir dalam aliran darahmu menuju otak. Buaian-buaian palsu tentang dunia yang sempat membuatmu terlena, tenggelam di dalamnya. Lalu apa yang harus dilakukan jika sorot mata berisi kepalsuan seolah terus mengintai hendak menerkammu?

Wednesday, March 18, 2015

Percakapan Dua Hati (yang Patah)

L: "Hai, maaf. Kamu dulu kuliah jurusan ****** *******, bukan?"
P: "Ya."
L: "Kenal G?"
P: "Hmm... G... G... G... Oh, iya. Dia teman sekelas waktu kuliah dulu. Kamu siapa?"
L: "Nggak ingat? Hehehe..."
P: (berpikir agak lama) "Oh, ya. Aku ingat! Yang pernah jemput aku ke resepsi pernikahan seorang teman, kan? Kamu waktu itu bersama G jemput aku di rumah. Kamu pacarnya, ya kan? Eh, atau suaminya?"
L: "Sekarang mantan, sih." (ekspresi wajah berubah sedih)
P: (setengah tak percaya) "Mantan? Kirain kalian sudah nikah sejak kapan tahu itu. Waduh!"
L: "Sebenarnya kalau jadi nikah, tahun 2013. Tapiii..."
P: "Kenapa?"
L: "......."
P: "Duh, maaf sudah bertanya! Aku hanya merasa ketinggalan berita teman-teman semasa kuliah karena nggak punya akun FB lagi. Kirain kalian sudah nikah... Maaf, ya."
L: "Nggak apa-apa."
P: "Oh, ya. Kok tiba-tiba datang ke kota ini? Bukannya kamu sudah bekerja di kotamu?"
L: "Ada urusan melegalisir ijazah di kampus. Kebetulan pengin singgah ke kafe ini, eh malah nggak sengaja ketemu teman lama. Kalau kamu juga anggap aku teman, sih. Hehehehe. Sibuk apa sekarang?"
P: "Oh, gitu. Aku lagi sibuk aja merealisasikan sesuatu. Hehehehe..."
L: "Mo nikah?"
P: "Hahahaha, ada deh."
L: "........"
P: "Btw, masih setengah percaya kalau kamu sama G sudah putus. Kalian, kan, cocok banget dulu..."
L: "Aku juga nggak menyangka. Tapi, apa mau dikata?"
P: "Kenapa bisa putus, sih?"
L: "......."
P: "Oops! Maaf sudah lancang lagi."
L: "Nggak apa-apa. Aku hanya merasa belum siap untuk menceritakannya sama kamu. Kita, kan, baru ketemu."
P: "Iya, nggak apa-apa. Aku mengerti kok."
L: "Hmm... Hmm... Padahal hubungan kami sudah sampai pada tahap lamaran. Sebentar lagi nikah, sebelum..."
P: "Hah? Serius? Waduh, sungguh patut disayangkan."
L: (mata mulai berkaca-kaca) "Aku nggak sengaja menemukan foto seorang cowok asing sama dia di FB cowok itu. Mereka bergandengan tangan. Mesra sekali."
P: "Hmm... Mungkin saja itu temannya."
L: "Teman kok bisa semesra itu? Ketika aku minta dia untuk membuktikan kalau mereka hanya sekadar teman, dia malah berkelit dan mencari-cari alasan. Di situlah kepercayaanku hilang sekejap."
P: "......."
L: (mata semakin berkaca-kaca)
P: "Padahal kalian sebentar lagi..."
L: "Iya, tapi apa mau dikata?"
P: "Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Sudah nikah?"
L: "Bulan ke depan."
P: "Maksudnya?"
L: "Dia bakalan nikah bulan depan."
P: "Sama cowok itu?"

Saturday, February 21, 2015

Tentang Rasa Memiliki

(foto: koleksi pribadi)

Rasa memiliki ibarat sebuah koin; di satu sisi ia membuat kita nyaman, di lain sisi ia membuat kita was-was.

Waktu menunjukkan pukul 02:30 ketika aku terbangun dari tidurku yang singkat dengan perasaan sedih yang tak bisa digambarkan. Mungkin kesedihan itu muncul sebagai imbas dari mimpi buruk. Dalam mimpi itu aku harus kehilangan beberapa teman yang kukasihi.

Setelah berhasil menenangkan diri dengan minum segelas air hangat, aku kemudian mencoba menganalisa apa yang baru saja kualami. Kenapa aku bersedih ketika harus kehilangan teman-temanku? Jawaban yang mengerucut kemudian adalah: karena aku merasa memiliki mereka.

Perasaan memiliki yang awalnya membuatku merasa nyaman ketika berada di samping teman-temanku ternyata bisa juga menjadi sumber kerapuhan. Aku (terlalu) takut kehilangan mereka, sehingga saat itu seakan benar terjadi (yakni lewat mimpi) ada kesedihan luar biasa yang cukup sulit untuk kutanggulangi.

Pertanyaannya, salahkah bila merasa memiliki?

Sunday, February 8, 2015

Surat (Entah Apa)

Jari-jari ini serasa kaku untuk sekadar mengetik surat (entah apa) ini. Sekaku senyumku saat melihatmu sudah berdiri di depan pintu. Sekaku sapaan "bagaimana keadaanmu?" yang terbata keluar dari bibirmu yang juga tak kalah kaku. Jarak yang terbentang antara kita tak mungkin begitu saja susut meski hanya sejengkal saja kau bisa meraihku dalam pelukmu.

Kita tidak sedang baik-baik saja. Bagaimana caranya mencairkan gunung es yang kian hari kian bertambah tinggi? Kau tahu itu hal yang mustahil, bukan? Ya, kecuali kiamat tiba saat matahari jatuh menimpa bumi; menghanguskannya dalam sekejap. Oh, tapi pada saat itu tentu kita pasti mati hingga mustahil juga membuat hubungan kita jadi baik kembali sepertiaku lupa, mungkin9 tahun lalu.

Thursday, February 5, 2015

Tato

picture by B

Hai, B...

To the point saja, bagaimana rasanya ditato? Sakit? Membayangkannya saja sudah membuat dahiku berkeringat dingin. Bukan takut pada jarum apalagi darah, tapi alam bawah sadarku sudah termakan sugesti kalau ditato itu rasanya sakit. Sakit yang mungkin tak bisa kutahan. Menurutmu?

B, waktu umurku sekitar 11 tahun aku pernah bertanya pada Opaku (beliau memiliki tato senjata di tangan kanannya): "Opa, kenapa tangan Opa ada tatonya? Kenapa juga harus gambar senjata? Kapan tato itu dibuat? Bagaimana rasanya ditato? Sakit?" Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian hanya dijawab Opaku dengan bahasa Jepang yang sama sekali tak kumengerti. Tapi dari raut wajahnya dapat kubaca kalau ditato itu rasanya sakit (dan sepertinya saat itu Opaku heran kenapa anak sekecil aku bertanya-tanya tentang tato, mungkin beliau berpikir kalau aku juga ingin bertato di usia yang bahkan belum remaja. Haha).

Hmm, sudah berapa bulan tato "don't lose hope" terukir indah di pergelangan tanganmu, B? (Aku lupa pergelangan tangan kiri atau kanan). Yang jelas aku bangga sekaligus ngeri mengingat dirimu yang menahan sakit ketika tato itu dibuat; hingga 3 kata dariku terukir (abadi) di tanganmu.