Thursday, August 11, 2016

Obrolan di Depan Cermin

Ketika kantuk urung menjemput hingga mata enggan memejam maka TV adalah sarana untuk mendapatkan hiburan−setidaknya beberapa tahun lalu ketika saya belum menyadari bahwa menonton TV adalah upaya untuk membodohi diri sendiri (apalagi berlama-lama mencecari pikiran dengan sebagian besar program TV Indonesia).
 
Malam itu, dua atau tiga tahun lalu (saya lupa tepatnya) saya tersasar dan entah kenapa langsung tertarik menonton ketika sebuah film diputar di channel berbahasa Mandarin (if you know what I mean). Film bertajuk “Zone Pro Site: The Moveable Feast” tak hanya menerbitkan liur­−karena sajian makanan sepanjang film terlihat begitu menggugah selera di mata saya−tapi juga mencipta debar dalam dada yang laun ke kian berubah menjadi entakan bahwa saya harus ke Taiwan (tepatnya Tainan, lokasi pembuatan film tersebut).
 
credit

How to Spot a Toxic Person

credit
“Is this person crazy?”

Have you ever had that thought while talking with someone where you just weren’t quite sure of the person you’re speaking with had all the tools in their tools box? In this post, I wanna show you how to spot a toxic person.

Do I smell desperation or that’s just the scent of a weird of? I wanna show you how you can sniff out toxic people before their drama rubs off on you.

Here are the seven signs of a toxic person:

Monday, June 6, 2016

Ketika Perih Menghantam, Ingat Kau Pernah Menulis Ini


credit
Pandangan mata menerawang sementara pikiran terempas ke dalam melankoli yang diciptakan sendiri. Mobil melaju dengan kecepatan konstan seolah memutarkan ribuan memori yang mengundang perih. Kesedihan itu masih ada. Terkungkung dalam alam bawah sadar. Tempat yang jarang dikunjungi, dan tak jarang terlupa kalau ia ada. Tertutupi tawa dan senyum palsu atau setidaknya keceriaan yang tak utuh. Bulir hangat mendesak keluar namun tertahan pada keangkuhan. Begitu pongah untuk sekadar menunjukkan kesedihan pada dunia yang tak henti menertawakan dan menawarkan segala tingkah dan ulah.

Thursday, May 26, 2016

"Mengapa Kamu Menulis?"

credit
Mungkin saya yang keliru ketika mempersilakan perempuan kecil itu membonceng di bagian depan motor. Kekeliruan saya juga ketika tak membuat motor dalam keadaan netral ketika dia naik dari sebelah kiri. Buntutnya, ketika tangan kanannya tak sengaja memacu gas, saya tak bisa menghilangkan ketakutan dan kegugupannya bahkan dengan teriakan, “Jangan gas! Jangan gas!”. Motor pun melaju dengan kecepatan yang tak terkatakan. Rasa-rasanya sedang terbang. Terbang menantang maut. Dalam sekian detik kengerian tersebut, saya mencoba berinisiatif mengerem meski tak membuahkan hasil sama sekali. Sebelum hampir menabrak empat perempuan yang panik beberapa meter di depan, saya pun membanting motor ke kiri sembari memeluk perempuan kecil tersebut dengan tangan kanan. Alhasil, luka lecet dan lebam tak terhindarkan lagi.

Malam yang tadinya begitu santai menjadi semacam malapetaka setelah kecelakaan tersebut terjadi. Siapa sih manusia di dunia ini yang sengaja mencelakakan diri? Orang bodoh mungkin. Tapi, tidak dengan saya pun perempuan kecil itu. Hingga maksud hati mengantarkannya dan omanya–yang waktu itu belum juga sempat naik ke motor–urung terlaksana. Saya hanya bisa merutuk sekaligus meringis saat itu. Meringis menahan sakit.

Sampai saat ini, saya dan perempuan kecil itu masih dalam masa pemulihan. Syukurlah, tak sampai dirawat di rumah sakit. Saya menuliskan catatan ini sebagai pengingat agar suatu hari saya tak lupa bahwa secuil kekeliruan bisa mendatangkan celaka. Dan barangkali saya mungkin akan tertawa ketika membaca lagi tulisan ini. Tepatnya, menertawakan diri saya sendiri.

Post ini ditulis untuk menjawab pertanyaan seorang teman (baru) yang disampaikan melalui teman (yang sudah) lama (saya kenal). “Mengapa kamu menulis?”. Awalnya saya sempat bingung menjawab pertanyaan tersebut mengingat saya belum merasa sebagai penulis. Alih-alih menelurkan karya (berupa buku solo), mengisi blog pun kadang saya malasnya bukan kepalang. Tapi, karena saya merasa tertantang dengan pertanyaan tersebut maka saya pun mencoba untuk menuliskan sesuatu.

Ah, jika direnungkan baik-baik alasan saya menulis karena (mungkin) lima hal di bawah ini:

Friday, April 1, 2016

Tentang Bacaan Menye-menye dan Bla-bla-bla Lainnya

Alert: post ini murni berisi opini pribadi tanpa bermaksud mendiskreditkan karya tertentu karena selera nggak pernah bisa boong.

source
Sebagai pembaca sastra pemula saya bersyukur sekaligus menyesal. Bersyukur karena akhirnya di usia-yang-tak-lagi-muda-ini saya akhirnya bisa menemukan bacaan yang merupakan my cup of tea. Ya, bacaan yang berbau sastra yang begitu kaya tak hanya pada ide cerita tapi juga diksi, dll, dsb, etc. Bacaan yang aupik tenan di mata saya seperti karya-karya Eka Kurniawan, Ayu Utami, Okky Madasari, Andina Dwifatma, Yusi Avianto Pareanom, dan beberapa penulis ketje yang karyanya selalu nendang. Dan sekaligus saya menyesal kenapa tak dari dulu berkenalan dengan bacaan seperti ini. Kenapa mata saya baru melek terhadap sastra di usia-yang-tak-lagi-muda-ini. Ya, tapi sudahlah. Selagi napas hidup masih dikaruniakan Sang Maha, saya telah bertekad untuk memperkaya diri dengan bacaan yang nggak menye-menye.

Lantas, apa itu bacaan menye-menye?

Sunday, March 27, 2016

7 Blog Terfavorit


Sejak post tentang 11 Blog Terfavorit (yang belakangan menyusut menjadi 10) terbit, saya berencana untuk memperbarui post tersebut tiap 6 bulan sekali. Tapi tak dinyana realisasinya baru bisa terwujud hampir 3 tahun setelahnya.

Apakah saya masih suka blog walking? Tentu saja. Tapi mungkin intensitasnya tak sesering dulu lagi. Penyebabnya karena kesibukan pekerjaan, dan kalaupun ada waktu luang saya lebih memilih membaca buku (atau kegiatan lain).

Aktivitas membaca buku ternyata sedikit banyak memengaruhi pilihan saya pada blog di mana saya mau menghabiskan waktu dengan berselancar. Bisa dikatakan saya jadi lebih selektif dalam memilih blog disesuaikan dengan selera saya terhadap jenis bacaan. Tak dapat disangkal, pada akhirnya blog yang saya anggap bahasannya menye-menye dan ngelantur tanpa ragu saya unfollow.

Saya pun sadar blog saya masih jauh dari kesan blog yang bikin orang betah untuk berlama-lama mengubeknya, tapi sikap saya yang selektif terhadap pilihan blog yang saya kunjungi (dan ikuti) adalah keputusan yang tidak akan saya sesali. Alih-alih, saya kini merasa waktu luang saya teralokasikan dengan baik ketika saya mengunjungi blog-blog yang berbobot di mata saya.

Seperti yang pernah saya utarakan bahwa tiap blog memiliki keunikannya tersendiri, pun selera tiap orang terhadap blog yang menurutnya bagus sudah pasti berbeda. Jadi, 7 blog yang akan saya sebutkan dalam post ini adalah murni termasuk dalam selera saya (jadi, bisa saja blog-blog tersebut biasa saja menurut Anda).

Well, tak perlu banyak babibu lagi. Inilah 7 blog terfavorit versi saya (kenapa 7? Karena 7 adalah angka favorit saya. As simple as that.):

Friday, March 11, 2016

Babi yang Menjelma Manusia

Perempuan itu memasuki pintu gerbang gereja dengan perasaan takjub. Tak terhitung babi yang tengah duduk mengikuti misa, dan yang paling menggelitik suara menggelegar dari mimbar juga berasal dari seekor babi berjubah hitam. Bulu kuduknya seketika bergidik.

***

Kamar berukuran 3x3 meter itu berantakan bak kapal pecah. Seorang perempuan berambut kusut-masai memandangi beberapa benda di hadapannya, setengah ragu untuk menjamah benda yang mana. Di depannya tergeletak obat nyamuk semprot, silet, tali jemuran, dan tablet obat-obatan yang jumlahnya tak terhitung. Rupanya ia berniat bunuh diri tapi masih bingung harus mati dengan cara apa.

Hidupnya amburadul bahkan lebih kacau dari kamarnya, lebih kusut dari rambutnya yang tak lagi terawat. Ia jengah dengan sekitarnya. Tepatnya, ia muak dengan orang-orang yang selama ini dikenalnya.
“Munafik kalian semua!” suaranya melengking di keremangan kamar.
Silet sudah di tangannya. Tanpa hitungan mundur ia tak ragu lagi akan mengiris nadinya sampai sebuah ketukan di pintu mengusiknya. Sialan! Umpatnya dalam hati.

Langkahnya setengah gontai menuju pintu kemudian memutar kunci.
“Sist, boleh pinjam charger ponselmu? Charger saya ketinggalan di kantor tadi. Hee...”
Perempuan itu terperanjat. Seekor babi mengenakan setelan kantor baru saja bicara padanya. Ia mengucek mata berkali-kali.
“Sist... Sist... Boleh pinjam charger-nya?”
Babi itu masih mengeluarkan suara.