Wednesday, May 22, 2013

Malam ke-100 Bersamanya


Tiba-tiba saja aku membenci malam. Setelah seharian bergulat dengannya, kurasakan seantero tubuhku remuk. Aku mengintip jendela, langit malam tanpa bintang tampak seperti raksasa yang menerkam juga menertawakan kelelahanku. Ini adalah malam ke-100 bersamanya. Aku tak berdaya, bahkan berteriak pun aku tak mampu.

Kulirik tubuhnya, ia juga nampak kelelahan. Maka kuputuskan mencoba tidur membelakanginya.

Bagaimana bisa aku membunuh kebosanan ini? Aku mulai merutuk dalam hati sambil tanganku meraih iPod yang sedari tadi tergeletak di atas kasur. Musik mulai mengalun di telingaku. Lagu 'More Than This' yang dinyanyikan One Direction pertama kali terdengar dalam playlist yang kuputar secara shuffle.

Kesenyapan malam perlahan mulai diriuhkan dengan kehadiran lagu-lagu favoritku. Aku pun mulai mengabaikan kehadirannya. Ah! Aku tak peduli lagi denganmu! Kau sudah memaksaku meladenimu seharian ini. Aku capek! Tak tahukah kau? Kembali aku hanya bisa merutuk dalam hati, seolah melakukan pembenaran pada apa yang sedang kulakukan.

Jangan mengabaikannya! Kau pasti akan menyesal jika kau tak menganggapnya penting. Masa depanmu sudah ditaruhkan di atasnya. Sudah seharusnya kau menjalani ini dengan senang hati. Di mana keseriusanmu? Di mana rasa cintamu yang dulu begitu menggebu?

Aku hanya bisa memutar kembali perkataan Ibuku di otakku. Kata-kata yang seperti peluru yang ditembakkan tepat ke jantungku. Aku tak bisa berkata tidak, karena sedari awal ini juga memang pilihanku.

Tapi, apakah tiap hari aku harus meladeninya? Aku juga butuh istirahat! Aku capek!

Tuesday, May 21, 2013

7 Alasan Masih Betah Dengan BlackBerry


Well! Dari segenap keluhan para BlackBerry users tentang kelemahan smartphone yang satu ini (aku pun termasuk salah satu yang sering ngeluh sih, heuheu...), tak sedikit pun membuat aku ingin move on ke smartphone dengan merk lain yang digadang-gadang lebih bagus bahkan lebih WOW dari BlackBerry.

FYI, aku sudah menggunakan BlackBerry sejak kira-kira 4 tahun yang lalu dan sejak saat itu sudah sampai 6x gonta-ganti BB. Alasannya sederhana: mulai dari rusak, mengikuti trend BB terbaru, BB dicuri, sampai ke perasaan tak puas jika hanya menggunakan 1 BB saja (oke, yang ini somse. Abaikan!)

Dan sesuai judul, inilah 7 alasan mengapa aku masih betah dengan BlackBerry:

  1. Belum punya cukup duit buat beli smartphones merk lain, seperti Android (dalam hal ini Samsung, dkk) apalagi iPhone 5 yang sebenarnya sangat menggoda untuk 'diicip-icip', tapi sayang harganya terlalu menjulang nyata di atasku. *kemudian hening*
  2. Aku adalah tipe loyal BB user alias pengguna BB yang setia (juga dalam hal berpacaran aku juga setia kok #halah). Sudah menjadi sifatku, saat merasa nyaman dengan suatu merk, maka untuk move on ke merk lain rasanya susah.
  3. BB yang kupakai sampai saat ini entah mengapa awet (yang 1 sudah pernah sekali diservis sih), makanya aku merasa nggak tega untuk mengganti dengan yang lain, karena kinerja 'mereka' memang masih bagus.
  4. Aku takut Mamaku ngomel-ngomel kalau sampai aku ganti ponsel lagi. Karena sebenarnya Mama cemburu dengan 'kedekatanku' sama BB (faktanya, Mama sering aku cuekin sih saat aku asyik dengan BB-ku), apalagi kalo ganti dengan ponsel yang (kata orang) lebih canggih? Bisa-bisa Mama kuanggap patung. *lalu dijewer Mama*

Monday, May 20, 2013

Gantungan Kunci dan Kenangan Tentangnya

Perhatianku teralih saat bermaksud membersihkan cermin besar di kamarku. Sebuah gantungan kunci sederhana tergantung tepat di paku di mana cermin itu juga tergantung. Kenapa gantungan kunci ini ada di sini? Seketika aku menggumam dalam hati bersamaan dengan ingatan yang dibawa jauh ke masa lalu, ingatan tentangnya.

***

"Ini hadiah kecil untukmu supaya kamu tak lagi lupa menaruh kuncimu. Hehe..." Katanya sambil menyunggingkan senyum manisnya. Aku terkaget. Setelah dibuat pusing mencarinya di tengah kerumunan orang yang memadati pasar malam, akhirnya aku menemukannya.

"Terima kasih," ucapku simpul sambil menerima pemberiannya. Sebuah gantungan kunci; terbuat dari logam seperti gantungan kunci pada umumnya, boneka anak gadis dari Jepang yang memegang sumpit sambil menjulurkan lidahnya ke sebelah kanan bibir tergantung di situ. Gantungan kunci ini begitu sederhana, sesederhana pemberinya. Harganya mungkin juga tak sampai Rp. 20.000,- tapi ia begitu berkesan untukku.


Aku membalik boneka Jepang itu dan ada namaku terukir di situ. "SINDY" begitulah namaku terukir dengan tulisan yang indah berwarna pink. Seketika aku tersenyum dan kembali lagi mengucapkan terima kasih padanya. Ia hanya tertawa geli sambil berkata, "Aku senang kalo kamu senang dengan pemberianku. Jangan jadi pelupa lagi yah," ucapnya setengah menggoda. Aku hanya mengangguk sambil menggandeng tangannya.

Friday, May 17, 2013

Jangan Dibaca Apalagi Didengarkan!

Hey, kamu! Iya, kamu. Kalo lagi stress atau menghadapi tekanan biasanya kamu ngapain? Ah, nggak perlu dijawab deh kalo kamu nggak mau jawab. Hahahahaha....

Maaf  yah, aku memang lagi stress sekarang! Tapi, kamu nggak perlu tahu aku stress karena apa, karena nggak penting juga untuk kamu ketahui.

Dan kamu mau tahu nggak, aku kalo lagi stress biasanya ngapain? Biasanya aku nulis atau nggak ngerekam suara absurdku lalu meng-uploadnya di SoundCloud. Pengen denger?

Here they are....

  1. Tertatih - Kerispatih
  2. I love you, Hunny (didekasikan cieelaaa khusus untuk kekasihku) :D

Selamat mendengarkan! Promo aja terus, Sin. Promo! Semoga kamu terhibur dengan suara absurdku. Caooo!

Sakit Hati Rasanya Nikmat!

Dear Mr. Heart Breaker,

Holla! How's life? No need to answer my pathetic question!

Bolehkah aku menceritakan 1 kisah absurd?

Begini ceritanya...

Entah kenapa subuh itu aku sudah berada di sebuah salon kecantikan (tepatnya bridal). Seorang banci salon sedang mendadaniku. Ia memoles wajahku dengan sangat hati-hati. Aku hanya tersipu saat memandangi cermin di depanku. Aku cantik sekali! Sungguh cantik bahkan menyerupai putri di cerita dongeng.

Masih terkagum dengan penampilanku yang sudah dipoles, aku sendiri bertanya dalam hati, Ada apa ini? Kenapa aku didandani secantik ini? Aku ingin bertanya ke si banci salon itu tapi secepat kilat ia berlalu; meninggalkanku dengan satu tanda tanya besar di kepala.

Lalu kulihat kau masuk melalui pintu salon. Cahaya lampu dari dalam salon seketika menimpa wajahmu yang terlihat semakin merona dan memukau sampai-sampai membuatku menelan ludah. Kau begitu tampan, bahkan lebih tampan dari biasanya. Seulas senyum tersungging di wajah manismu. Tapi kau tak menatapku.

Aku terus menatapmu dengan penuh selidik, mencari tahu apa atau siapa yang sedang kautatap saat ini. Degup jantungku seakan berhenti tatkala kulihat seseorang yang ternyata sedari tadi duduk di sebelahku. Dialah yang sedang kaupandangi saat itu, bahkan kau datang mendekatinya.

"Sudah siap, Sayang?" Pertanyaan bernada lembut keluar dari mulutmu, tapi bukan untukku. Kulihat dia hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Dia, seorang gadis yang cantik. Sungguh sangat cantik! Aku pun seketika merasa minder saat mencoba membandingkan kecantikanku dengannya. Kepalaku rasanya mengecil, aku ingin segera kabur dari tempat itu!

Lalu kulihat kau mengulurkan tangan kananmu yang disambut dengan tangan kanannya. Kau pun membantunya bangkit dari tempat duduk itu. Saat itu, dia sudah berpakaian gaun putih yang cantik, dan sepertinya itu adalah gaun pengantin. Ya, gaun pengantin!

Bibirku masih tak berkutik sementara tangan kiriku dengan refleks mengucek mata. Ternyata benar, dia tengah mengenakan gaun pengantin. Sementara kau? Kau pun mengenakan jas yang rapi, dan jas itu ternyata.... Jas itu pun adalah jas pengantin. Apakah itu artinya?

Travel with you…


“I want to travel around the world only with @zhienjie.”

Jie terkaget saat membaca kalimat tersebut di tab mention. Satu kalimat yang cukup membuat darah di sekujur tubuh Jie berdesir dan memberi sensasi hangat di kedua pipinya yang mulai merona. Jie membalas mention tersebut.

“I do too.”
Reply

Beberapa saat kemudian, LED merah berkelap-kelip di sudut kanan atas BlackBerry-nya. Bukan mention baru di twitter, tapi satu pesan di BBM.

“So, will you travel around the world only with me?”

Jie hanya tersenyum simpul dan mengetik, “For sure!”

Percakapan di BBM berlanjut, dan Jie semakin terlarut. Ia seakan lupa pada bentang jarak yang memisahkan dirinya dengan Zack. Jie juga mulai mengabaikan kalau Zack hanyalah teman baiknya di dunia maya yang belum pernah bertemu sekali pun di dunia nyata. Ia berpikir bahwa percakapan tersebut hanya sekadar keisengan pengisi waktu luang. Bagaimana mungkin dia dan Zack bisa berkeliling dunia bersama — sementara mereka belum pernah bertemu sebelumnya?

Jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam, dan Jie baru saja ‘berpamitan’ dengan Zack di BBM. Ia merebahkan tubuhnya, tapi masih memikirkan Zack dan rencana mereka untuk keliling dunia bersama. Apa itu mungkin?Apa Zack sebaik yang kukenal di dunia maya? Bagaimana kalo Zack hanya ingin memperdayaiku?Berbagai pertanyaan dalam benaknya berkelebat, menahan kantuknya.

Tahun 2009, Jie menemukan Zack Wijaya — sosok asing yang meminta pertemanan dengannya di akun Facebook. Dengan sembarangan dan tanpa maksud apa-apa, Jie menerima pertemanan itu. Mulanya mereka sekadar saling menyapa, kemudian saling bercerita, membagi apa saja. Apalagi foto profil Zack terlihat begitu tampan. Jie semakin merasa nyaman dengan kehadiran Zack. Seiring waktu, dan seiring bertambahnya kedekatan mereka di dunia maya, Jie dan Zack tak hanya sekadar dihubungkan oleh Facebook semata, tapi mulai merambah ke Twitter, hingga BBM. Zack pun semakin sering meneleponnya, setidaknya seminggu sekali.

Jie semakin merasa bahwa kehadiran Zack memiliki arti yang istimewa dalam mengisi hari-harinya. Saat sedang gundah, Zack adalah orang pertama yang menjadi tempat curahan hatinya. Saat sedang sakit, Zack pun tak segan memberi perhatian intens melalui telepon-teleponnya. Zack seolah memiliki kepekaan yang tinggi saat ia sedang senang ataupun sedih, tanpa Jie perlu memberi tahunya terlebih dulu. Jie merasakan sebuah ikatan batin di antara mereka berdua. Lamat-lamat, muncul keraguan dan kegundahan dalam hati Jie. Apakah ia benar sedang jatuh cinta pada Zack? Perempuan mana yang tidak akan terbuai dengan perhatian berlebihan dari seorang lelaki yang secara intens menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari 3 tahun? Batinnya tak henti-henti bertanya-tanya dan menjawab-jawab sesuai prasangkanya sendiri.

Namun kisah cinta ini seolah begitu sederhana. Gayung bersambut, karena pada akhirnya Zack pun mengungkapkan perasaan cintanya pada Jie.

“Bagaimana mungkin kamu bisa jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah sekali pun bertatap muka denganmu? Bagaimana jika aku bukanlah seperti yang kamu bayangkan selama ini? Bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang absurd?” Berbagai pertanyaan berhamburan dari mulut Jie, sesaat setelah Zack mengakui perasaan cintanya di telepon. Akal sehatnya yang menggiring sikapnya untuk menampik cinta Zack. Jie masih merasa tak siap dengan hubungan yang di matanya terasa absurd.

Tapi rupanya Zack mampu bersikap dewasa. Dia bukanlah lelaki yang memperlakukan Jie sebagai musuhnya ketika cintanya ditolak. Mereka berdua malah bersepakat untuk merasa cukup dengan sekadar menjadi teman baik. Kenyataannya, hubungan pertemanan mereka memang menjadi semakin baik, semakin dekat. Setidaknya sampai malam ini, ketika Jie dibuatnya tak bisa tidur memikirkan keseriusan rencana traveling bersama Zack.

“Kita ke Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan kapal ferry. Setelah itu naik sleeping bus ke Malaysia, lalu ke Thailand,” jelas Zack, dalam pembicaraan telepon mereka.

“Kenapa rutenya panjang begitu? Aku bisa mabuk laut lho kalo harus nyebrang ke Singapura naik kapal ferry.”

“Tenang saja, Jie. Kalau di sampingku, kamu pasti nggak bakal mabuk laut. Bahuku ini akan menjadi tempatmu bersandar saat menikmati sapuan ombak di laut.” Zack mulai mengeluarkan jurus rayuannya.

Ihh apaan sih? Aku memang nggak suka naik kapal. Dulu, waktu SD, aku…”

“Iya, dulu waktu SD kamu pernah mabuk laut parah sampe muntah-muntah, kan?”

Kok kamu tahu sih?”

“Kamu kan udah pernah cerita, Jie. Waktu SMA juga kamu urung ikutan study tour karena harus naik kapal laut. Waktu itu kamu sampai dimarahi wali kelas dan dikasih nilai merah di raport. Hihii…

Ihh ngeledek! Ngeselin tahu nggak?” Jie pura-pura merasa kesal.

Hahahaha, becanda kok, Jie. Becanda. Lagian udah gede masih aja takut naik kapal laut? Gimana mo ngarungi bahtera rumah tangga bareng aku?”

“Apa? Kamu barusan ngomong apa? Ihh! Aku delete dari kontak BBM, lho ya…”

Hihihi… judes banget. Becanda, Sayang, eh Jie. Jadi, intinya kamu tenang aja, ntar aku jamin kamu nggak bakalan mabuk laut. Bukan traveler namanya kalo maunya naik alat transportasi yang enak-enak aja. Malah dengan merasakan semua jenis alat transportasi, perjalanan itu akan semakin hidup dan berkesan. Don’t you think so?

“Iya deh iya. Aku mau aja naik kapal laut. Tapi janji yah aku nggak bakalan mabuk laut.”

Yap! Cinta ini jaminannya. Eh..

Ihh!

Becanda! Bobo gih sana, besok pagi aku telepon, yah. Mimpi indah, Jie. Semoga nggak mabuk laut di mimpinya.”

“Iya, Kapten!”

Jie masih tersenyum-senyum sendiri setelah membaca lagi kutipan percakapan dengan Zack di BBM.

“Ke Thailand bareng dia, mungkinkah?” — Itulah twit terakhir yang diposting Jie sebelum memutuskan untuk tidur.

Hooooaaam… Semoga nggak mabuk laut di mimpi.” Ucap Jie pelan, mengutip kembali ucapan Zack di BBM, sambil menyelimuti badannya.

Jie terlonjak dari atas kasur saat mendengar handphone berdering. “Sial! Siapa yang sepagi ini udah nelpon? Ganggu orang lagi tidur aja.” Umpatnya dalam hati.
Dengan gerakan malas, diraihnya handphone yang diletakkan di atas meja belajar di sebelah kasur.

***

“Hallo, selamat pagi, Jie. Gimana mimpinya? Nggak mabuk laut, kan?” Suara yang tak asing terdengar di ujung telepon.

Ihh! Masih pagi lho, Zack! Kenapa udah ngajak orang berantem sih?” Jawab Jie ketus sambil menguap.

Hmm, aku cuma mo minta kepastian aja nih tentang rencana traveling kita. Kalau deal, pagi ini aku bisa atur itinerary-nya supaya ntar gak ribet. Dua minggu lagi kita berangkat.”

Hah? Dua minggu lagi? Duh, Zack! Aku mikir-mikir dulu, yah. Nggak mungkin lah secepat ini aku langsung jawab iya.”

Oke, kamu mikir-mikir dulu aja yah, Jie. Ntar jam 10 aku telepon kamu lagi dan kepastiannya harus sudah ada. Oke?

“Iya…iya.”

Percakapan di telepon berakhir seiring hilangnya rasa kantuk Jie. Dia mulai memikirkan tentang rencana traveling ini.
2 minggu lagi? Duh! Apa aku sudah siap? Batin Jie, masih merasa bimbang dengan rencana yang baginya sedikit gila.

Wednesday, May 15, 2013

Mencari Ketenangan


Menjauhi hiruk-pikuk dunia
Untuk mencari sesuatu yang bernama ketenangan
Tak ada gangguan dari mereka
Yang ada hanyalah aku dan diriku dalam hening

Ketenangan diperlukan untuk terapi jiwa
Yang terlalu lelah dipaksa mencampuri urusan orang lain
Dan saat aku menggapainya
Aku merasakan sejuta kelegaan

Dalam ketenangan hanya ada aku dan diriku
Bercakap-cakap dan berdialog tentang apa saja
Mengarahkan kembali fokus hidup yang sempat keliru
Dan mengatur ancang-ancang untuk langkah menjadi juara

Aku tertawa ternyata hidup tidaklah rumit
Saat aku tidak terpengaruh dengan dunia
Saat aku kembali mendengarkan suara hati yang sempat menjerit
Untuk kembali menjadi diri sendiri seutuhnya

*dengarkan saat aku membacakan puisi ini di sini