Thursday, June 18, 2015

"Inception"

Ada rasa kaget, haru, dan rindu yang meluap ketika melihat ia masuk melalui pintu. Seketika aku merasa harus sembunyi. Dia tak boleh melihatku! Rasa-rasanya ingin menuntaskan rindu dengan berlari ke arahnya lantas memeluknya, tapi ketakutan dalam batin turut mencengkeram. Apakah dia... benar-benar hidup kembali? Pikiranku berkecamuk sementara badan terus kutundukkan; masih mencoba sembunyi dari jangkauan matanya.

Tapi rasa penasaran terus saja meliuk tak beraturan di dalam perutku seperti cacing kepanasan. Aku. Harus. Mendekatinya. Tanpa. Diketahuinya. Batinku mengerang.

Monday, May 4, 2015

Apa yang Saya Tulis Ketika Tak Tahu Harus Menulis Apa

Kira-kira beginilah keadaannya:

Cangkir bersisa ampas. Pantat kebas. Pandangan mata menerawang. Dan beberapa detik kemudian seperti ada petir menyambar hingga tersadarlah bahwa layar komputer di depan mata masih kosong. Padahal jam di tangan kiri sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam, yang artinya sudah sejam lebih waktu terbuang percuma tanpa ada tulisan yang dihasilkan.

Pernah merasa demikian? Ingin menulis tapi tidak tahu harus menulis apa. Semakin rasa itu menggebu, maka isi dalam otak serasa melayang serupa balon udara kemudian pecah dan lenyap. BLANK!
What to write?
How to start?

Tuesday, April 7, 2015

Dasar Orang Gila!

credit
Pernahkah merasa bahwa semesta berkonspirasi membuatmu terasing? Seolah kamu sebenarnya alien yang berasal dari planet Mars namun untuk alasan yang entah malah terdampar di bumi bersama para manusia yang bertingkah "aneh" di matamu? Jika pernah, yuk sama-sama panggil UFO untuk datang menjemput.

Bom waktu telah meledak; menyerakkan fatamorgana yang selama ini mengalir dalam aliran darahmu menuju otak. Buaian-buaian palsu tentang dunia yang sempat membuatmu terlena, tenggelam di dalamnya. Lalu apa yang harus dilakukan jika sorot mata berisi kepalsuan seolah terus mengintai hendak menerkammu?

Wednesday, March 18, 2015

Percakapan Dua Hati (yang Patah)

L: "Hai, maaf. Kamu dulu kuliah jurusan ****** *******, bukan?"
P: "Ya."
L: "Kenal G?"
P: "Hmm... G... G... G... Oh, iya. Dia teman sekelas waktu kuliah dulu. Kamu siapa?"
L: "Nggak ingat? Hehehe..."
P: (berpikir agak lama) "Oh, ya. Aku ingat! Yang pernah jemput aku ke resepsi pernikahan seorang teman, kan? Kamu waktu itu bersama G jemput aku di rumah. Kamu pacarnya, ya kan? Eh, atau suaminya?"
L: "Sekarang mantan, sih." (ekspresi wajah berubah sedih)
P: (setengah tak percaya) "Mantan? Kirain kalian sudah nikah sejak kapan tahu itu. Waduh!"
L: "Sebenarnya kalau jadi nikah, tahun 2013. Tapiii..."
P: "Kenapa?"

Saturday, February 21, 2015

Tentang Rasa Memiliki

(foto: koleksi pribadi)

Rasa memiliki ibarat sebuah koin; di satu sisi ia membuat kita nyaman, di lain sisi ia membuat kita was-was.