Friday, July 31, 2015

Such a "Nano-nano" Night

credit
Just because I appreciate you doesn’t mean I have to agree with all your opinions. This is one of the principals in my life.

I’m a kind of person who’s kinda frontal. If I like something (or someone), I say it. If I don’t like something (or someone), I say it. For sure, with a good manner.

Siapa yang Naif di Sini?

“Orang yang suka baca buku (dalam hal novel) adalah tipe orang yang akan mudah percaya terhadap karakter-karakter dalam buku yang ia baca sehingga dengan impulsifnya menyimpulkan bahwa semua orang yang ia temui dalam hidup mirip seperti karakter-karakter tersebut. Lebih parahnya lagi saat membaca cerita tentang prince charming, dsb, ia akan mencoba untuk menemukan semacam prince charming tersebut di kehidupan nyata yang sesungguhnya tak benar-benar ada di dunia ini seberapa kuat pun ia berusaha menemukannya.”

“PARDON ME?”

Tuesday, July 28, 2015

Cinta Tak Mengenal Kata "Kedaluwarsa"

Katakan padaku bagaimana caranya menepis perasaan deg-degan sekaligus nyaman ketika bersama seseorang? Katakan, please, please, please...

Aku mengetik ini dengan jari gemetar sekaligus jantung yang rasanya mau loncat dari dada. Membayangkan wajahnya saja sudah berhasil membuatku semringah sekaligus... aarrrggghhh! Kenapa dia terlalu indah hingga membuatku... waittt... apa ini namanya jatuh cinta? Setelah sekian lama apakah akhirnya aku bisa benar-benar jatuh cinta lagi? Atau sesungguhnya rasa ini hanyalah ketertarikan semu karena sosoknya begitu mahir mencuri perhatian sekaligus mengalihkan duniaku?

Thursday, June 18, 2015

"Inception"

Ada rasa kaget, haru, dan rindu yang meluap ketika melihat ia masuk melalui pintu. Seketika aku merasa harus sembunyi. Dia tak boleh melihatku! Rasa-rasanya ingin menuntaskan rindu dengan berlari ke arahnya lantas memeluknya, tapi ketakutan dalam batin turut mencengkeram. Apakah dia... benar-benar hidup kembali? Pikiranku berkecamuk sementara badan terus kutundukkan; masih mencoba sembunyi dari jangkauan matanya.

Tapi rasa penasaran terus saja meliuk tak beraturan di dalam perutku seperti cacing kepanasan. Aku. Harus. Mendekatinya. Tanpa. Diketahuinya. Batinku mengerang.

Monday, May 4, 2015

Apa yang Saya Tulis Ketika Tak Tahu Harus Menulis Apa

Kira-kira beginilah keadaannya:

Cangkir bersisa ampas. Pantat kebas. Pandangan mata menerawang. Dan beberapa detik kemudian seperti ada petir menyambar hingga tersadarlah bahwa layar komputer di depan mata masih kosong. Padahal jam di tangan kiri sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam, yang artinya sudah sejam lebih waktu terbuang percuma tanpa ada tulisan yang dihasilkan.

Pernah merasa demikian? Ingin menulis tapi tidak tahu harus menulis apa. Semakin rasa itu menggebu, maka isi dalam otak serasa melayang serupa balon udara kemudian pecah dan lenyap. BLANK!
What to write?
How to start?