Thursday, April 17, 2014

Selamat Datang (Kembali), K...

Picture is taken from here
Pernahkah kau merasa begitu bahagia sampai ingin meneteskan air mata? Bukan air mata keharuan, namun kali ini benar-benar air mata kesedihan. Kau menyadari seseorang yang paling layak turut berbahagia bersamamu ternyata sudah tiada, hingga tiap tetes air mata yang jatuh ke pipimu mewakili tiap kerinduanmu akan hadirnya.

Malam itu, entah ada berapa bulir hangat jatuh membasahi pipiku. Aku begitu merindukannya di tengah luapan kebahagiaan yang semestinya aku rasakan. Sosok yang tegas namun penuh cinta, dialah yang dengan bangga kusebut Papa.

Sudah 2 tahun dia pergi meninggalkanku selamanya. Sudah 2 tahun pula seorang lelaki "menggantikan posisinya" di hatiku. Tak sepenuhnya "menggantikan" karena Papa memang tak bisa tergantikan. Tapi kehadiran lelaki itu cukuplah membuatku merasa dicintai dan diayomi. Membuatku yakin bahwa lelaki baik seperti Papa benar-benar ada di dunia ini.

"Kenapa menangis?" kurasakan tangannya yang kekar memelukku dari belakang tatkala suara beratnya menelusup pendengaran.

Aku lantas berbalik dan memeluknya; mencurahkan segenap kesedihanku. Badanku berguncang hebat, dan ia mendekapku semakin erat.

"Aku kangen Papa!" ucapku lirih tanpa bisa membendung air mata yang terus menetes.

"Aku sudah berjanji akan menjagamu seumur hidupku. Dan aku tak akan mengecewakanmu juga Papamu." pelukannya semakin terasa. Dia mengecup kening lalu bibirku. Perlakuannya sedikit menenangkanku, dan membuatku nyaman terus berada dalam dekapannya. Hening setelahnya. Hening yang mengantarkanku ke alam mimpi di mana Papa "menampakkan dirinya" di sana.

Saturday, April 12, 2014

Untuk Kakek Bermantel Oranye


Matahari belum juga mengintip dari balik awan ketika kau dengan langkah pasti menyusuri jalanan yang tentu saja masih lengang. Aku tak sengaja sudah mengikutimu dari belakang. Jogging. Hal yang kusukai dan mulai kugalakkan untuk menjadi bagian dari hobi, yang kurasa juga adalah hal yang sama yang kaugemari.

Langkah kaki kita seirama. Kiri, kanan, berganti kiri, lalu kanan lagi, dan seterusnya. Panjangnya jarak tempuh tak menjadi masalah karena kesejukan dan aroma pagi yang menyapa seolah menjadi teman setia penghangat hati. Kau mungkin tak menyadari kehadiranku di belakangmu yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 5 meter darimu.

Di saat manusia-manusia lain masih terlelap di bawah selimut, kau dan aku sudah berani menantang pagi dengan kaki yang bergerak maju. Usiamu mungkin terpaut jauh dariku. 50 tahun, mungkin. Tapi aku bisa merasakan semangatmu menulariku lewat setiap jejak yang kautorehkan di jalan.

Kakek bermantel oranye, terima kasih karena meski tanpa kausadari, kau telah menjadi temanku jogging di pagi ini. Aku jadi semakin mencintai hobiku ini karena banyak sisi kehidupan yang bisa kulihat dan mustahil kudapati jika saja aku lebih memilih meladeni kantuk. Salah satunya adalah dirimu. Kau mengajariku bahwa usia bukanlah penghalang untuk memelihara gaya hidup sehat. Tubuh boleh saja dimakan usia, tapi ketika semangat tetap berkobar kurasa itulah hakikat dasar kehidupan: menghargai tiap desah napas dengan terus bergerak karena hal tersebut sudah menjadi kodrat manusia sebagai makhluk dinamis.

Monday, April 7, 2014

Morning Person. Am I?

Though I was born in the morning, but I’m not a kind of a what-they-so-called morning person. Waking up in the morning is such an impossible thing for me to do. That’s why when I said I’m going to do jogging almost every morning (or even dawn), people laughed out loud cause they took my decision as a joke.

So, to prove it, I try hard waking up in the morning and do jogging. And, guess what… I did it! Again, I DID IT! You must be proud of me. Indeed. Hahahahaahaa…

So, here are some pictures I’ve taken (as a proof) when I did jogging in some chances. Thank God, I’m no longer a night owl but I’ll proudly say that I AM A MORNING PERSON! Hohohohohoo… ^^
*some pictures might be blur cause the resolution in my camera is not as good as I hope. ._.





Friday, April 4, 2014

Catatan Kecil Sebelum Hari Pernikahan


Picture is taken from here
Seminggu sekali, waktu yang kurasa tak pernah cukup untuk menuntaskan kerinduan bertemu denganmu. Kadang kita bercerita begitu intens, namun tak jarang pula hanya bercakap seadanya. Sejak rasa itu menelisik dalam dada, aku jadi salah tingkah apalagi ketika kamu menatap mataku begitu dalam, jantungku rasanya hendak meloncat!

Sudah 3 bulan sejak pertama kali kamu mengulurkan tangan kananmu sembari menyebutkan namamu. Sudah 3 bulan pula nama tersebut tersimpan di benakku, dan tak jarang kusebutkan di kala aku merapal doa setiap hari. Kamu, dengan segenap kepolosan pun kelembutanmu telah membuat hatiku jatuh telak. Aku tak bisa menyangkal tentang rasa itu yang kini menghinggap di dada.

Jumat kemarin, lagi-lagi kamu mengusikku. Minta dijemput. Waktu itu hujan turun tak sebegitu derasnya, tapi dengan suara manjamu di telepon kamu berhasil membujukku untuk datang menjemputmu. Aku pura-pura keberatan dan memintamu untuk datang sendiri saja, tapi sekuat apakah aku sampai bisa menahan rayuan suara merdumu?

Aku pun melangkah menantang hujan di malam yang dingin bertemankan sebuah payung cokelat yang kugenggam erat. 15 menit berselang, aku tiba di depan rumahmu. Kamu menyambutku dengan senyum manis yang sangat kurindukan. Aku memanggilmu, tapi kamu malah menyuruhku menjemputmu sampai ke teras rumah. Awalnya aku menggelengkan kepala, setelahnya? Kaki ini dengan ringan melangkah ke arahmu.

Kita pun berjalan bersisian, melewati jalanan yang masih saja diguyur hujan. Refleks, tanganmu menggamit tangan kananku yang tengah memegang payung. Aku, tentu saja, pura-pura bertindak biasa saja. Padahal sesungguhnya aku merasa seperti roket yang melesat ke angkasa.

Rumah yang hangat itu kembali menyambut kita. Rumah tempat kamu dan aku juga teman-teman kita sesama ambivert menghabiskan waktu. 2 jam saja, seminggu sekali yaitu tiap hari Jumat, kita akan berkumpul di rumah itu. Berdiskusi tentang apa saja, sesekali berekreasi, memasak bersama, atau jika ada yang ingin menyendiri untuk membaca, tak ada yang akan melarang. Itulah mengapa kita semua begitu betah berada di rumah itu.

Aku, sebagai seseorang yang katakanlah sudah cukup senior di "Klub Ambivert", begitulah namanya, merasa senang ketika mendapati ada saja pertambahan setidaknya 1 anggota baru setiap bulan. Dan 3 bulan lalu, kamulah anggota baru itu. Kamu, yang mengaku juga adalah seorang ambivert merasa perlu untuk bergabung di perkumpulan ini. Karena sama sepertiku yang rindu berkumpul tapi juga tak jarang ingin menyendiri, kamu pun demikian.

Sejak mengetahui aku dulu kuliah di jurusan yang sama dengan yang sementara kamu tekuni, kita pun menjadi lebih dekat. Berawal dari berbagi pengalamanku tentang perkuliahanku dan segala tetek-bengek yang berhubungan dengannya, kamu mulai bertanya tentang kehidupan pribadiku. Aku, tentu saja, tak akan begitu mudahnya terbuka kepada kenalan baru meski kamu, tanpa kutanya, bisa berbagi tentang kehidupan pribadimu. Aku merasa semakin mengenalmu sementara aku masih merahasiakan beberapa hal dalam diriku yang kurasa tak perlu kamu ketahui.
"Selamat tidur. Tak sabar rasanya menunggu seminggu berlalu supaya bisa berkumpul lagi di 'Klub Ambivert'. Hihii..."
1 pesan singkat darimu mengusikku yang tengah asyik membaca buku. Pesan bernada sama seperti yang kamu kirimkan selama beberapa minggu terakhir. Lagi-lagi, sengaja tak kubalas karena aku bisa memprediksikan apa yang akan terjadi setelahnya...

Thursday, March 20, 2014

Kegelapan adalah Sarang Setan

Picture is taken from here
Katanya, kegelapan adalah sarang setan. Aku bergeming, dan mencoba mencerna kata-katanya. Kata-kata yang setelah besar hanya menjadi angin lalu. Karena kini, aku justru menyukai kegelapan.

Kalau ada orang yang merasa sesak napas ketika berada dalam tempat yang gelap, aku justru sebaliknya. Aku selalu merasa bisa bernapas lebih lega jika dalam kegelapan. Kalau ada yang merasa ketakutan dalam gelap, aku justru merasa damai. Jadi, jika kelegaan dan kedamaian bisa kudapatkan dalam kegelapan, kupikir salah besar jika kegelapan itu diidentikkan dengan sarang setan, bukan begitu?

Kau tak perlu setuju dengan pendapatku karena aku toh bukan orang itu, yang dulu sempat merecokiku dengan perkataan di atas.

Semalam lampu mati. Dia dan aku duduk bersebelahan. Oh, tentu saja bukan dia yang kuceritakan sebelumnya, tapi dia yang lain. Dia yang membuatku salah tingkah jika berada bersamanya di tempat yang terang. Syukurlah semalam suasana di sekitar kami begitu gelap hingga aku merasa lebih leluasa, dan bisa menyembunyikan kegugupanku.

Awalnya dia duduk di kursi yang lain, namun entah kenapa memutuskan berpindah ke sebelahku. Di ruang tamu rumahnya kegelapan menyergap. Rasanya seperti sedang berada di dalam tenda di tengah hutan ketika berkemah. Hanya dia dan aku. Sekeliling kami terasa senyap.

"Haruskah aku nyalakan lilin?" tanyanya sambil mengelus tangan kananku.

"Tak perlu. Mungkin sebentar lagi lampu akan menyala," aku berpaling ke arahnya dan tak menemui wajah yang kukagumi itu. Hanya desah napasnya yang sekali-kali berembus mengenai wajahku. Darahku berdesir apalagi ketika dia mulai menggenggam tanganku.

"Boleh pinjam ponselmu?"

"Untuk apa?"

"Hanya ingin melihat foto-foto."

"Tak ada apa-apa di sini."

"Pleaseee..."

"Baiklah."

Ponselku pun sudah berpindah tangan.

Beberapa menit berlalu, dia masih sibuk menyorongkan trackpad ke arah kanan; memperhatikan satu per satu foto yang kusimpan di ponsel. Jantungku berdegub tak beraturan.

"Jadi benar kamu berpacaran dengan lelaki ini?" cahaya layar ponsel seketika menyilaukan mataku ketika dia mengarahkannya padaku.