Friday, April 1, 2016

Tentang Bacaan Menye-menye dan Bla-bla-bla Lainnya

Alert: post ini murni berisi opini pribadi tanpa bermaksud mendiskreditkan karya tertentu karena selera nggak pernah bisa boong.

source
Sebagai pembaca sastra pemula saya bersyukur sekaligus menyesal. Bersyukur karena akhirnya di usia-yang-tak-lagi-muda-ini saya akhirnya bisa menemukan bacaan yang merupakan my cup of tea. Ya, bacaan yang berbau sastra yang begitu kaya tak hanya pada ide cerita tapi juga diksi, dll, dsb, etc. Bacaan yang aupik tenan di mata saya seperti karya-karya Eka Kurniawan, Ayu Utami, Okky Madasari, Andina Dwifatma, Yusi Avianto Pareanom, dan beberapa penulis ketje yang karyanya selalu nendang. Dan sekaligus saya menyesal kenapa tak dari dulu berkenalan dengan bacaan seperti ini. Kenapa mata saya baru melek terhadap sastra di usia-yang-tak-lagi-muda-ini. Ya, tapi sudahlah. Selagi napas hidup masih dikaruniakan Sang Maha, saya telah bertekad untuk memperkaya diri dengan bacaan yang nggak menye-menye.

Lantas, apa itu bacaan menye-menye?

Tuesday, March 29, 2016

My 100 List

Being inspired by Hanny’s post about her 100 list, I then decided to create my own. So, this list contains 100 things that I want to accomplish in life. All the things that I like to achieve.
  1. Writing my own novel(s), especially the psycho-thriller one(s)
  2. Getting published
  3. Learning how to swim in the pool by myself
  4. Exploring Borneo by motorcycle with someone
  5. Having a wider comfortable purple bedroom
  6. Designing my own purple house
  7. Visiting all the bookshops in Yogyakarta (and buying ton of books there)
  8. Hugging a big panda. Like, a real one (not a doll)
  9. Solo traveling to Tainan for a month
  10. Having some unique bookshelves on my wide wall which contain thousand books
  11. Learning basic Spain
  12. Learning advanced Mandarin
  13. Traveling to Thailand with someone
  14. Contemplating at the Hoan Kiem Lake
  15. Meeting someone I know online whom lives abroad
  16. Traveling to Boracay for a week
  17. Watching Tim McGraw’s live concert
  18. Watching Taylor Swift’s live concert
  19. Having coffee with Morrie in Seoul (or wherever she lives, consider I’m a big fan of her indie songs)
  20. Discussing with Eka Kurniawan about his works and Indonesian literature
  21. Joining the class of Windy Ariestanty and Hanny Kusumawati about narrative travel writing at writingtable
  22. Collecting all the works of Edgar Keret, Haruki Murakami, Fyodor Dostoyevski, George Orwell, Ray Bradburry, Shusaku Endo, Leo Tolstoy, Orhan Pamuk, Albert Camus
  23. Jogging/biking for about 30 minutes every morning
  24. Having a purple vespa
  25. Continuing studying abroad (UK or Aussie)
  26. Being a public speaker in front of thousand people
  27. Dancing alone in the wide field full of green grass
  28. Learning to play guitar
  29. Being a photographer
  30. Handing out a novel I had read to a stranger at the airport or cafe
  31. Getting an owl tattoo on my shoulder blade
  32. Kissing under the rain
  33. Dancing under the rain
  34. Going hiking
  35. Visiting one tourism place in North Sulawesi twice a month for a year
  36. Living in a small island for a month
  37. Gaining five kilograms (like, please... I don't want to be forever skinny)
Well, it’s not 100 yet because I’m still thinking and dreaming (while trying to achieve what have been written above). I'm gonna update this post later. Ciao!

PS: You know what... just by writing down this list, I got more and more excited to achieve 'em.

Sunday, March 27, 2016

7 Blog Terfavorit


Sejak post tentang 11 Blog Terfavorit (yang belakangan menyusut menjadi 10) terbit, saya berencana untuk memperbarui post tersebut tiap 6 bulan sekali. Tapi tak dinyana realisasinya baru bisa terwujud hampir 3 tahun setelahnya.

Apakah saya masih suka blog walking? Tentu saja. Tapi mungkin intensitasnya tak sesering dulu lagi. Penyebabnya karena kesibukan pekerjaan, dan kalaupun ada waktu luang saya lebih memilih membaca buku (atau kegiatan lain).

Aktivitas membaca buku ternyata sedikit banyak memengaruhi pilihan saya pada blog di mana saya mau menghabiskan waktu dengan berselancar. Bisa dikatakan saya jadi lebih selektif dalam memilih blog disesuaikan dengan selera saya terhadap jenis bacaan. Tak dapat disangkal, pada akhirnya blog yang saya anggap bahasannya menye-menye dan ngelantur tanpa ragu saya unfollow.

Saya pun sadar blog saya masih jauh dari kesan blog yang bikin orang betah untuk berlama-lama mengubeknya, tapi sikap saya yang selektif terhadap pilihan blog yang saya kunjungi (dan ikuti) adalah keputusan yang tidak akan saya sesali. Alih-alih, saya kini merasa waktu luang saya teralokasikan dengan baik ketika saya mengunjungi blog-blog yang berbobot di mata saya.

Seperti yang pernah saya utarakan bahwa tiap blog memiliki keunikannya tersendiri, pun selera tiap orang terhadap blog yang menurutnya bagus sudah pasti berbeda. Jadi, 7 blog yang akan saya sebutkan dalam post ini adalah murni termasuk dalam selera saya (jadi, bisa saja blog-blog tersebut biasa saja menurut Anda).

Well, tak perlu banyak babibu lagi. Inilah 7 blog terfavorit versi saya (kenapa 7? Karena 7 adalah angka favorit saya. As simple as that.):

Friday, March 11, 2016

Babi yang Menjelma Manusia

Perempuan itu memasuki pintu gerbang gereja dengan perasaan takjub. Tak terhitung babi yang tengah duduk mengikuti misa, dan yang paling menggelitik suara menggelegar dari mimbar juga berasal dari seekor babi berjubah hitam. Bulu kuduknya seketika bergidik.

***

Kamar berukuran 3x3 meter itu berantakan bak kapal pecah. Seorang perempuan berambut kusut-masai memandangi beberapa benda di hadapannya, setengah ragu untuk menjamah benda yang mana. Di depannya tergeletak obat nyamuk semprot, silet, tali jemuran, dan tablet obat-obatan yang jumlahnya tak terhitung. Rupanya ia berniat bunuh diri tapi masih bingung harus mati dengan cara apa.

Hidupnya amburadul bahkan lebih kacau dari kamarnya, lebih kusut dari rambutnya yang tak lagi terawat. Ia jengah dengan sekitarnya. Tepatnya, ia muak dengan orang-orang yang selama ini dikenalnya.
“Munafik kalian semua!” suaranya melengking di keremangan kamar.
Silet sudah di tangannya. Tanpa hitungan mundur ia tak ragu lagi akan mengiris nadinya sampai sebuah ketukan di pintu mengusiknya. Sialan! Umpatnya dalam hati.

Langkahnya setengah gontai menuju pintu kemudian memutar kunci.
“Sist, boleh pinjam charger ponselmu? Charger saya ketinggalan di kantor tadi. Hee...”
Perempuan itu terperanjat. Seekor babi mengenakan setelan kantor baru saja bicara padanya. Ia mengucek mata berkali-kali.
“Sist... Sist... Boleh pinjam charger-nya?”
Babi itu masih mengeluarkan suara.

Tuesday, February 9, 2016

Dasar Masokis!

credit
Hai, kamu makhluk pongah yang pernah dengan entengnya berkata tak butuh orang lain.
Dasar masokis!

Kamu pikir, sengaja menjauhkan diri dari keluarga dan sanak saudara akan membuat hidupmu lancar-lancar saja seperti ketika kamu menyeruput mie instant kesukaanmu?

Kamu yakin, berbekal kepintaran (yang kamu rasa telah kamu punyai itu) segala tantangan yang menghadang dapat kamu hadapi semudah mengerjakan persamaan matematika untuk anak SD?

Kamu masih berani berceletuk bahwa keberanian dan kepercayaan diri yang katamu telah mendarah daging dalam dirimu bisa membuat pandanganmu tetap ke depan meski berjuta aral mencoba menundukkanmu?

Kamu masih mau berkoar bahwa kamu tak sekalipun akan dirundung sepi meski hanya bertemankan angin yang mengundang gigil di sekujur tubuhmu?

Saturday, January 16, 2016

Gora Tidak Gila!

(... Baca Bagian 5: Kucing Hitam Pembawa Pesan)
-Bagian 6
 
source

  “Kalian gila! Kalian gila! Kenapa Gora kalian bawa ke rumah sakit jiwa? Gora tidak gila!”
Suaraku membahana di kuping orang-orang sekitarku. Aku tak tahu dari mana munculnya gerombolan yang kini mengelilingiku. Ada yang menatapku dengan tatapan jijik, ada pula yang sepertinya iba terhadapku (setidaknya hanya satu ibu-ibu yang kelihatan demikian), sementara yang lain (terutama anak kecil) menertawaiku karena entah apa.
“Kegilaannya tak bisa ditolerir lagi!” Celetuk seorang lelaki bersuara berat.

“Kata siapa Gora gila? Gora itu anak baik-baik yang pendiam. Aku temannya. Dan siapa kalian sampai berani berkata demikian?”

Friday, January 15, 2016

Kucing Hitam Pembawa Pesan

(... Baca Bagian 4: "Mamanya Penyembah Patung?")
-Bagian 5  
“Mereka sudah membawa Gora ke rumah sakit jiwa pagi ini!”
Secepat kilat aku telah berada di sebuah ruangan kecil berdinding putih. Seharusnya terasa pengap di dalamnya namun hawa dingin menguar menusuk kulit padahal tak ada pendingin ruangan di situ.
“Penyembah patung itu harus ditangkap! Dia orang gila! Penyembah patung itu orang gila!” Suara teriakannya baru saja mengusikku.
Kedua tangan dan kakinya terikat kain putih, tubuhnya meronta dengan gerakan tak bertenaga. Mungkin sudah dari tadi ia berteriak-teriak seperti itu. Dengan langkah perlahan, aku mencoba mendekatinya. Jantungku berdegub makin kencang.
“Gora! Kenapa mereka mengikatmu seperti ini?” Kaget bercampur rasa prihatin, itulah yang kurasakan. Ia tak menghiraukan pertanyaanku, dan malah terus meneriakkan dua kata itu. “Penyembah patung! Penyembah patung!”
Karena kasihan, aku berinisiatif untuk membuka ikatan di tangan dan kakinya. Ketika aku baru saja bergerak, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka...