Saturday, February 21, 2015

Tentang Rasa Memiliki

(foto: koleksi pribadi)

Rasa memiliki ibarat sebuah koin; di satu sisi ia membuat kita nyaman, di lain sisi ia membuat kita was-was.

Waktu menunjukkan pukul 02:30 ketika aku terbangun dari tidurku yang singkat dengan perasaan sedih yang tak bisa digambarkan. Mungkin kesedihan itu muncul sebagai imbas dari mimpi buruk. Dalam mimpi itu aku harus kehilangan beberapa teman yang kukasihi.

Setelah berhasil menenangkan diri dengan minum segelas air hangat, aku kemudian mencoba menganalisa apa yang baru saja kualami. Kenapa aku bersedih ketika harus kehilangan teman-temanku? Jawaban yang mengerucut kemudian adalah: karena aku merasa memiliki mereka.

Perasaan memiliki yang awalnya membuatku merasa nyaman ketika berada di samping teman-temanku ternyata bisa juga menjadi sumber kerapuhan. Aku (terlalu) takut kehilangan mereka, sehingga saat itu seakan benar terjadi (yakni lewat mimpi) ada kesedihan luar biasa yang cukup sulit untuk kutanggulangi.

Pertanyaannya, salahkah bila merasa memiliki?

Sunday, February 8, 2015

Surat (Entah Apa)

Jari-jari ini serasa kaku untuk sekadar mengetik surat (entah apa) ini. Sekaku senyumku saat melihatmu sudah berdiri di depan pintu. Sekaku sapaan "bagaimana keadaanmu?" yang terbata keluar dari bibirmu yang juga tak kalah kaku. Jarak yang terbentang antara kita tak mungkin begitu saja susut meski hanya sejengkal saja kau bisa meraihku dalam pelukmu.

Kita tidak sedang baik-baik saja. Bagaimana caranya mencairkan gunung es yang kian hari kian bertambah tinggi? Kau tahu itu hal yang mustahil, bukan? Ya, kecuali kiamat tiba saat matahari jatuh menimpa bumi; menghanguskannya dalam sekejap. Oh, tapi pada saat itu tentu kita pasti mati hingga mustahil juga membuat hubungan kita jadi baik kembali sepertiaku lupa, mungkin9 tahun lalu.

Thursday, February 5, 2015

Tato

picture by B

Hai, B...

To the point saja, bagaimana rasanya ditato? Sakit? Membayangkannya saja sudah membuat dahiku berkeringat dingin. Bukan takut pada jarum apalagi darah, tapi alam bawah sadarku sudah termakan sugesti kalau ditato itu rasanya sakit. Sakit yang mungkin tak bisa kutahan. Menurutmu?

B, waktu umurku sekitar 11 tahun aku pernah bertanya pada Opaku (beliau memiliki tato senjata di tangan kanannya): "Opa, kenapa tangan Opa ada tatonya? Kenapa juga harus gambar senjata? Kapan tato itu dibuat? Bagaimana rasanya ditato? Sakit?" Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian hanya dijawab Opaku dengan bahasa Jepang yang sama sekali tak kumengerti. Tapi dari raut wajahnya dapat kubaca kalau ditato itu rasanya sakit (dan sepertinya saat itu Opaku heran kenapa anak sekecil aku bertanya-tanya tentang tato, mungkin beliau berpikir kalau aku juga ingin bertato di usia yang bahkan belum remaja. Haha).

Hmm, sudah berapa bulan tato "don't lose hope" terukir indah di pergelangan tanganmu, B? (Aku lupa pergelangan tangan kiri atau kanan). Yang jelas aku bangga sekaligus ngeri mengingat dirimu yang menahan sakit ketika tato itu dibuat; hingga 3 kata dariku terukir (abadi) di tanganmu.

Wednesday, February 4, 2015

Teruntuk Peri Gigi

Baiklah kubuka surat ini dengan sedikit menguji ingatanmu (kuharap kau tak keberatan)...

"Sindy?"

Suara tipis namun tegas itu seketika membuyarkan konsentrasiku membaca blurb sebuah buku. Suara yang tadinya kupikir suara anak kecil mengantarkanku pada pertanyaan "Kenapa anak kecil itu memanggil namaku?" Pertanyaan yang langsung terjawab saat aku memalingkan wajah ke kiri dan kulihat kau di situ, perempuan berambut bergelombang dengan kemeja dan rok panjang yang kau kenakan. Ternyata bukan anak kecil, gumamku dalam hati.

Memori otakku cepat bekerja; mencoba mengingat siapa dirimu. Benar saja, aku bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa kau orang yang sedang kutunggu, teman dari dunia maya yang begitu baik kumintai tolong ini-itu (jika disebutkan satu per satu mungkin surat ini bisa sepanjang sebuah buku). Aneh memang. Kita sudah berbulan-bulan kenal tapi baru kali itu sempat bertemu, pertemuan yang sangat singkat padahal kita tinggal sekota.

Monday, February 2, 2015

7 Huruf

Teruntuk Tuan C yang terhormat,

Aku sempat berpikir bahwa kau seperti pelangi yang menyapa ketika hujan serasa tak kunjung reda. Aku sempat dibuatmu begitu yakin bahwa ada secercah harapan setelah begitu panjang linangan air mata karena hati yang berkali-kali terkoyak. Itu dulu. Tapi kini aku sadar 1 huruf di tengah namamu membuatku harus meyakinkan diri bahwa pelangi itu hanyalah halusinasi belaka.

Kau tentu tahu kenapa aku sangat mencintaiatau kalau bisa dikatakan mengagungkanangka 7, sampai-sampai pada suatu celoteh di kala hujan di sore hari aku pernah berkata hanya ingin menjalani sisa hidup dengan seorang lelaki dengan nama yang terdiri dari 7 huruf. Saat itu kau hanya tersenyum; senyum yang entah kenapa tak bisa kuartikan.

Lalu waktu dan jarak seperti raksasa jahat yang melemparkanmu ke utara dan aku ke selatan. Kita pun saling terpaut, lama...