Sunday, January 31, 2016

Teruntuk Tuan Monokrom

Serasa ada kuncup mekar dalam perutku ketika pertama kali memperhatikanmu. Tatapan matamu begitu tajam namun tersirat kelembutan di dalamnya. Aku jadi ingin menelisik, tepatnya mencoba mengintip apa yang ada di balik mata itu. Aku penasaran apa yang tersimpan di dalam sana karena kelihaianmu memainkan aksara tak pernah gagal membuatku terperangah.

Lalu aku tertawa sekeras-kerasnya, bukan karena kau baru saja menelurkan humor yang menggelitik tapi karena kebodohanku dulu terlalu malas mencari tahu tentang rupamu hingga dalam benakku selama ini kau adalah lelaki tua yang pintar merangkai kata. Aku tertawa sampai terguncang-guncang lalu kembali lagi dirundung takjub karena usiamu ternyata hanya terpaut beberapa jenak dariku. Inikah keberuntungan?

Saturday, January 16, 2016

Gora Tidak Gila!

(... Baca Bagian 5: Kucing Hitam Pembawa Pesan)
-Bagian 6
 
source

  “Kalian gila! Kalian gila! Kenapa Gora kalian bawa ke rumah sakit jiwa? Gora tidak gila!”
Suaraku membahana di kuping orang-orang sekitarku. Aku tak tahu dari mana munculnya gerombolan yang kini mengelilingiku. Ada yang menatapku dengan tatapan jijik, ada pula yang sepertinya iba terhadapku (setidaknya hanya satu ibu-ibu yang kelihatan demikian), sementara yang lain (terutama anak kecil) menertawaiku karena entah apa.
“Kegilaannya tak bisa ditolerir lagi!” Celetuk seorang lelaki bersuara berat.

“Kata siapa Gora gila? Gora itu anak baik-baik yang pendiam. Aku temannya. Dan siapa kalian sampai berani berkata demikian?”

Friday, January 15, 2016

Kucing Hitam Pembawa Pesan

(... Baca Bagian 4: "Mamanya Penyembah Patung?")
-Bagian 5  
“Mereka sudah membawa Gora ke rumah sakit jiwa pagi ini!”
Secepat kilat aku telah berada di sebuah ruangan kecil berdinding putih. Seharusnya terasa pengap di dalamnya namun hawa dingin menguar menusuk kulit padahal tak ada pendingin ruangan di situ.
“Penyembah patung itu harus ditangkap! Dia orang gila! Penyembah patung itu orang gila!” Suara teriakannya baru saja mengusikku.
Kedua tangan dan kakinya terikat kain putih, tubuhnya meronta dengan gerakan tak bertenaga. Mungkin sudah dari tadi ia berteriak-teriak seperti itu. Dengan langkah perlahan, aku mencoba mendekatinya. Jantungku berdegub makin kencang.
“Gora! Kenapa mereka mengikatmu seperti ini?” Kaget bercampur rasa prihatin, itulah yang kurasakan. Ia tak menghiraukan pertanyaanku, dan malah terus meneriakkan dua kata itu. “Penyembah patung! Penyembah patung!”
Karena kasihan, aku berinisiatif untuk membuka ikatan di tangan dan kakinya. Ketika aku baru saja bergerak, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka...

Thursday, January 14, 2016

30 Books to (Buy and) Read Before June 2016

source
Since I've committed to read more Indonesian literature, I looked for the books from Indonesian authors which tempt me to buy and (of course) read. Thanks for goodreads for making this job easier. Special thanks to those books' reviewers out there who have written an honest review for each book they read which attract me to grab those books. I really appreciate that!

I declare June as my month (because I was born on June), that's why I have a target to buy some books that I urge to read.

So, here they are... 30 Books to (Buy and) Read Before June 2016:

Wednesday, January 13, 2016

Mamanya Penyembah Patung?

source
(... Baca Bagian 3: Tentang Gora dan Secuil Masa Lalu)
-Bagian 4
Hari ini ia datang lagi, masih dengan tatapan matanya yang kosong. Penampilannya terlihat urakan. Tulang-tulang di tangannya semakin menonjol. Aku miris melihatnya. Dan mulutnya... ah, tak henti melantur.
“Kamu tahu Mamaku? Ia bukan Mama kandungku,” katanya membuka obrolan. 
“Jangan bercanda, ah. Apa kamu lupa kalau kamu anak kesayangan Mamamu?”
“Ia bukan Mamaku. Mamaku bukan penyembah patung!”

Monday, January 11, 2016

Tentang Gora dan Secuil Masa Lalu

source
-Bagian 3
 
“Cup cuppp... Jagoan Mama yang paling ganteng se-Indonesia raya,” senyum semringah tampak di wajah perempuan empatpuluhan di depanku. Aku hanya melongo kemudian menjilat lollipop di tanganku. Si bayi kembali mengeluarkan bunyi oek-oek. Bunyi yang kuartikan sebagai tanda bahwa ia lapar. Entahlah, aku hanya berasumsi. Aku pun berinisiatif menyodorkan permen di tanganku ke mulut si bayi. Sontak, si ibu mencegat aksiku.

Kutu di Kepala dan Pertanyaan yang Perlahan Terjawab

source
(... baca Bagian 1: Apakah Benar Ia Sudah Gila?)
 -Bagian 2

Setengah berlari ia keluar dari beranda rumahku menuju ke jalanan. Teriakan ibunya tak ia hiraukan. Aku mendongak masih tanpa kata sementara otakku terus saja berasumsi; mencari jawaban yang sedari tadi belum terjawab.
Apa ia mabuk?
Tapi seandainya ia mabuk, kenapa dari mulutnya tak tercium bau alkohol?

Apa ia pura-pura?
Mana mungkin. Ia bahkan sudah mempermalukan dirinya juga ibunya dengan bertingkah aneh seperti itu.

Apa ia memang sedang kesal pada ibunya?
Ah, tapi bukan begitu juga caranya, kan? Setahuku dulu ketika bertamu ke rumahku ia begitu sopan, berbicara banyak pun enggan.

Apa ia mengonsumsi obat-obatan terlarang?
Hmm, bisa jadi. Tapi, apa benar si pemalu dan pendiam itu bisa terjerumus ke dunia narkoba? Siapa yang mencemplungkannya hingga ia mengenal barang haram tersebut? Ah, tak mungkin juga rasanya.

Kemungkinan terakhir, apa benar ia sudah gila seperti kata orang?
Bisa saja, ah, tapi aku tak percaya! Tak mungkin seseorang bisa gila dalam waktu sekejap saja. Tidak mungkin. Setahuku ia anak manis yang waras dan tak mungkin neko-neko. Titik.