Friday, October 17, 2014

Untuk J...

Ketakutan mencekam seisi ruangan itu. Orang-orang yang kukenal semuanya tegang dan pucat. Tak terkecuali aku, layaknya si penakut bernyali kecil sekecil batu dalam genggaman tangan kananku yang mau tak mau, nekad tak nekad siap menghantam kepala orang itu dengan batu tersebut jika ia menyakitiku.

Langkahnya pelan nan menakutkan. Semua mata enggan menatap langsung padanya. Takut jika ia menghampiri. Dan ia pun mulai bergerilya; mencari sasaran yang tepat untuk didatangi.

Tepat tiga baris dari tempatku duduk, seorang teman perempuan didekatinya. Lantas ditamparnya wajah temanku tanpa rasa bersalah sembari memakinya dengan kata-kata kasar. Tak ada kata yang keluar dari mulut temanku apalagi perlawanan. Ketika ia menjambak rambutnya, kulihat air matanya jatuh. Ia menangis. Kami semua pun ikut menangis dalam hati. Sungguh tega ia berbuat demikian terhadap temanku. Tapi tak ada rasa bersalah dari sorot matanya, yang ada hanyalah kekosongan.

Puas dengan aksi pertamanya, ia melanjutkan memilih korban berikutnya. Satu lagi teman perempuanku yang duduk tepat di depanku didekatinya.
Plakkk! "Sudah kukatakan lelaki itu berengsek! Kenapa kamu rela menjual 'tuhanmu' untuk dia? Dasar wanita murahan!" Plakkk!
Dua kali tamparan mendarat di pipi temanku, tapi ia hanya diam. Aura ketakutan semakin mencekam. Siapa korban selanjutnya? batinku berteriak.

Thursday, September 4, 2014

"Shake It Off!"

Picture is taken from here
Dengan kepala sedikit puyeng namun semangat (untuk menulis) yang meletup di dada aku mulai mengetikkan satu per satu kata di post ini. Sakit selama berhari-hari memang menyiksa! Tapi untunglah "masa suram" tersebut telah berlalu, dan aku merasa adalah suatu keharusan untuk mengisi blog yang sudah sebulan (lebih) dianggurin.

Lantas mau ngomongin apa?

Hmm...

Well, selama sakit aku jadi punya waktu untuk "bersantai". Waktu luang yang kuhabiskan dengan membaca "buku-buku ringan", berpikir untuk memotong rambut lebih pendek, dan mendengarkan lagu terbaru Taylor Swift yang berjudul "Shake It Off!" (*pura-pura lupa dengan ritual minum obat yang jumlahnya tak terhitung itu* :D)

Hmm, lupakan tentang "masa suram" tersebut, mari aku ceritakan sejenak tentang lagu Taylor Swift di atas. ^^

Ketika tahu (dari tweet di akun twitter-nya) kalau Taylor Swift baru saja merilis single terbarunya berjudul "Shake It Off!" aku begitu senang dan langsung saja mengunjungi Tante Youtube (yes, kalau Google disebut "Om", maka tak apalah jika Youtube kusebut "Tante" :D). Dan seperti yang selalu terjadi saat pertama kali aku mendengarkan lagu terbaru Taylor Swift, aku langsung jatuh cinta! (Consider that I'm a big fan of Taylor Swift since I was born :p) Bukan hanya pada suara yang menurutku unik, musik yang nge-beat dan asyik didengar, namun liriknya juga T-O-P-B-G-T!

Dalam lagu "Shake It Off!", Taylor Swift seperti ingin sedikit "menggoda" para haters-nya yang tak henti-henti mencela tentang lagu-lagunya yang dinilai diangkat dari kehidupan percintaannya yang semuanya kandas di tengah jalan. Tapi itulah yang kusuka dari Taylor Swift, ia membalas celaan dengan karya. "Hidup toh berkarya aja. Soal disukai atau kagak itu mah urusan belakangan. Kalo ada yang sampe membenci, itu nanti urusan mereka sama yang Di Atas." Mungkin ini kata Taylor Swift dalam hati. Hihii... :D

Pesan dalam lagu "Shake It Off!" begitu nyantol di hatiku. Whatever people say and think about you, just say "It's gonna be alright," just shake it off! Shake it off! Hohohohoo...

Friday, August 1, 2014

Oops! Jaga Jarak!

Picture is taken from here
Di suatu sore saat aku sedang diajari menyetir oleh Papaku, aku begitu antusias sampai rasa-rasanya ingin menyalip semua kendaraan yang ada di depanku. Tak heran, umurku saat itu baru 17 tahun hingga keinginan untuk menunjukkan ke seluruh dunia bahwa aku bisa menyetir (bahkan balapan) begitu meluap. Aku ingin mereka yang melihatku terkagum, terperangah, dan kemudian memujiku dengan berucap: "WOW!" Itulah keinginan (yang tampaknya mengada-ada) untuk seorang remaja. Haha.

Papaku jelas saja dengan penuh ketenangan menasihatiku untuk menjaga jarak dengan kendaraan di depanku.

JAGA JARAK, kata kunci yang terus kuingat sampai sekarang. Aku setidaknya harus menjaga jarak sekitar 5 meter di belakang kendaraan yang ada di depanku supaya ketika kendaraan tersebut mengerem mendadak, aku bisa terhindar dari tabrakan dengannya. Nasihat yang awalnya kuabaikan namun kemudian terpatri dalam ingatanku karena aku hampir saja (dengan bodohnya) menabrak saat itu.

Saturday, July 26, 2014

[BOOK LAUNCHING] "ANTOLOGI RINDU"

Book's cover designed by: Arwin Eliezer
Siapakah manusia di dunia ini yang tidak pernah merasakan rindu? Saya yakin tiap manusia pernah merasakannya; bergumul karenanya. Bahkan bayi yang baru lahir pun sudah menyatakan rindu lewat tangisannya karena dahaga akan air susu ibu yang merupakan salah satu tanda cinta kasih dari sang ibu.

Rindu. Satu kata dengan jangkauan yang luas. Bisa rindu pada pasangan (yang jauh atau dekat sekalipun), rindu pada orangtua (yang masih hidup atau sudah tiada), rindu pada teman lama atau mantan kekasih atau siapa pun, rindu pada momen tertentu dalam hidup, dan masih banyak lagi.

Dan, pernahkah rindu itu seakan membuncah di dada karena begitu lama dipendam? Pernahkah rindu itu seakan menggerogoti pertahanan dan mendesak kita untuk segera menuntaskannya?

Berawal dari pemikiran di atas dan sebuah tweet dari Ika Fitriana yang bunyinya, "Coba, deh, nyatakan rindumu tanpa kata 'rindu'.." Maka lewat satu writing project bertajuk "Antologi Rindu Tanpa Kata 'Rindu'" terpilihlah 32 karya (plus 8 karya dari tim juri dan penggagas) di antara 684 naskah yang masuk.

Di dalam buku ini, Anda akan menemukan 13 cerpen, 13 flash fiction, dan 14 puisi bertema kerinduan yang dipaparkan tanpa menggunakan kata "rindu".

Penasaran dengan isinya? Silakan membalik tiap halaman dalam buku ini sambil turut merasakan kerinduan di dalamnya.

Saya harap, buku ini bisa menjadi teman setia pengisi waktu sekaligus memaktubkan dalam hati bahwa hanya yang sesungguhnya mencinta yang bisa merindu; termasuk Anda, pun saya.

*Silakan dapatkan buku ini secara online hanya di website nulisbuku dengan harga Rp. 50.000,-
**Happy shopping and happy reading, fellas! *smooch*

Thursday, July 24, 2014

Tentang Rasa Memiliki

Rasa memiliki ibarat sebuah koin; di satu sisi ia membuat kita nyaman, di lain sisi ia membuat kita was-was.

Waktu menunjukkan pukul 02:30 ketika aku terbangun dari tidurku yang singkat dengan perasaan sedih yang tak bisa digambarkan. Mungkin kesedihan itu muncul sebagai imbas dari mimpi buruk. Dalam mimpi itu aku harus kehilangan beberapa teman yang kukasihi.

Setelah berhasil menenangkan diri dengan minum segelas air hangat, aku kemudian mencoba menganalisa apa yang baru saja kualami. Kenapa aku bersedih ketika harus kehilangan teman-temanku? Jawaban yang mengerucut kemudian adalah: karena aku merasa memiliki mereka.

Perasaan memiliki yang awalnya membuatku merasa nyaman ketika berada di samping teman-temanku ternyata bisa juga menjadi sumber kerapuhan. Aku (terlalu) takut kehilangan mereka, sehingga saat itu seakan benar terjadi (yakni lewat mimpi) ada kesedihan luar biasa yang cukup sulit untuk kutanggulangi.

Pertanyaannya, salahkah bila merasa memiliki?