Friday, August 1, 2014

Oops! Jaga Jarak!

Picture is taken from here
Di suatu sore saat aku sedang diajari menyetir oleh Papaku, aku begitu antusias sampai rasa-rasanya ingin menyalip semua kendaraan yang ada di depanku. Tak heran, umurku saat itu baru 17 tahun hingga keinginan untuk menunjukkan ke seluruh dunia bahwa aku bisa menyetir (bahkan balapan) begitu meluap. Aku ingin mereka yang melihatku terkagum, terperangah, dan kemudian memujiku dengan berucap: "WOW!" Itulah keinginan (yang tampaknya mengada-ada) untuk seorang remaja. Haha.

Papaku jelas saja dengan penuh ketenangan menasihatiku untuk menjaga jarak dengan kendaraan di depanku.

JAGA JARAK, kata kunci yang terus kuingat sampai sekarang. Aku setidaknya harus menjaga jarak sekitar 5 meter di belakang kendaraan yang ada di depanku supaya ketika kendaraan tersebut mengerem mendadak, aku bisa terhindar dari tabrakan dengannya. Nasihat yang awalnya kuabaikan namun kemudian terpatri dalam ingatanku karena aku hampir saja (dengan bodohnya) menabrak saat itu.

Saturday, July 26, 2014

[BOOK LAUNCHING] "ANTOLOGI RINDU"

Book's cover designed by: Arwin Eliezer
Siapakah manusia di dunia ini yang tidak pernah merasakan rindu? Saya yakin tiap manusia pernah merasakannya; bergumul karenanya. Bahkan bayi yang baru lahir pun sudah menyatakan rindu lewat tangisannya karena dahaga akan air susu ibu yang merupakan salah satu tanda cinta kasih dari sang ibu.

Rindu. Satu kata dengan jangkauan yang luas. Bisa rindu pada pasangan (yang jauh atau dekat sekalipun), rindu pada orangtua (yang masih hidup atau sudah tiada), rindu pada teman lama atau mantan kekasih atau siapa pun, rindu pada momen tertentu dalam hidup, dan masih banyak lagi.

Dan, pernahkah rindu itu seakan membuncah di dada karena begitu lama dipendam? Pernahkah rindu itu seakan menggerogoti pertahanan dan mendesak kita untuk segera menuntaskannya?

Berawal dari pemikiran di atas dan sebuah tweet dari Ika Fitriana yang bunyinya, "Coba, deh, nyatakan rindumu tanpa kata 'rindu'.." Maka lewat satu writing project bertajuk "Antologi Rindu Tanpa Kata 'Rindu'" terpilihlah 32 karya (plus 8 karya dari tim juri dan penggagas) di antara 684 naskah yang masuk.

Di dalam buku ini, Anda akan menemukan 13 cerpen, 13 flash fiction, dan 14 puisi bertema kerinduan yang dipaparkan tanpa menggunakan kata "rindu".

Penasaran dengan isinya? Silakan membalik tiap halaman dalam buku ini sambil turut merasakan kerinduan di dalamnya.

Saya harap, buku ini bisa menjadi teman setia pengisi waktu sekaligus memaktubkan dalam hati bahwa hanya yang sesungguhnya mencinta yang bisa merindu; termasuk Anda, pun saya.

*Silakan dapatkan buku ini secara online hanya di website nulisbuku dengan harga Rp. 50.000,-
**Happy shopping and happy reading, fellas! *smooch*

Thursday, July 24, 2014

Tentang Rasa Memiliki

Rasa memiliki ibarat sebuah koin; di satu sisi ia membuat kita nyaman, di lain sisi ia membuat kita was-was.

Waktu menunjukkan pukul 02:30 ketika aku terbangun dari tidurku yang singkat dengan perasaan sedih yang tak bisa digambarkan. Mungkin kesedihan itu muncul sebagai imbas dari mimpi buruk. Dalam mimpi itu aku harus kehilangan beberapa teman yang kukasihi.

Setelah berhasil menenangkan diri dengan minum segelas air hangat, aku kemudian mencoba menganalisa apa yang baru saja kualami. Kenapa aku bersedih ketika harus kehilangan teman-temanku? Jawaban yang mengerucut kemudian adalah: karena aku merasa memiliki mereka.

Perasaan memiliki yang awalnya membuatku merasa nyaman ketika berada di samping teman-temanku ternyata bisa juga menjadi sumber kerapuhan. Aku (terlalu) takut kehilangan mereka, sehingga saat itu seakan benar terjadi (yakni lewat mimpi) ada kesedihan luar biasa yang cukup sulit untuk kutanggulangi.

Pertanyaannya, salahkah bila merasa memiliki?

Friday, July 11, 2014

Akibat dari Keseringan Duduk di Warung Kopi

Picture is taken from here XD
Faktanya, orang yang sering duduk di warung kopi mempunyai tingkat kesabaran lebih tinggi dibanding yang tidak.
Kenapa saya bisa bilang demikian? Karena ada beberapa orang yang hanya duduk sendirian menikmati secangkir kopi hangat tanpa melakukan apa pun selama beberapa jam. Contohnya diri saya. Saya bisa menghabiskan beberapa jam hanya duduk menikmati segelas kopi hangat kesukaan saya. Mungkin bagi beberapa orang itu adalah hal yang amat sangat membosankan, tapi buat saya itu adalah bagian dari melatih kesabaran dan tempat di mana saya mempunyai keinginan untuk memulai menulis, tak tahu apa karena saya punya bakat menulis atau hanya sekadar iseng belaka. Tapi semenjak duduk di warung kopilah, rasa ingin menulis saya sangat kuat.
 

Dan sampai kapan pun, warung kopi akan menjadi tempat favorit saya.

Saturday, April 12, 2014

Untuk Kakek Bermantel Oranye


Matahari belum juga mengintip dari balik awan ketika kau dengan langkah pasti menyusuri jalanan yang tentu saja masih lengang. Aku tak sengaja sudah mengikutimu dari belakang. Jogging. Hal yang kusukai dan mulai kugalakkan untuk menjadi bagian dari hobi, yang kurasa juga adalah hal yang sama yang kaugemari.

Langkah kaki kita seirama. Kiri, kanan, berganti kiri, lalu kanan lagi, dan seterusnya. Panjangnya jarak tempuh tak menjadi masalah karena kesejukan dan aroma pagi yang menyapa seolah menjadi teman setia penghangat hati. Kau mungkin tak menyadari kehadiranku di belakangmu yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 5 meter darimu.

Di saat manusia-manusia lain masih terlelap di bawah selimut, kau dan aku sudah berani menantang pagi dengan kaki yang bergerak maju. Usiamu mungkin terpaut jauh dariku. 50 tahun, mungkin. Tapi aku bisa merasakan semangatmu menulariku lewat setiap jejak yang kautorehkan di jalan.

Kakek bermantel oranye, terima kasih karena meski tanpa kausadari, kau telah menjadi temanku jogging di pagi ini. Aku jadi semakin mencintai hobiku ini karena banyak sisi kehidupan yang bisa kulihat dan mustahil kudapati jika saja aku lebih memilih meladeni kantuk. Salah satunya adalah dirimu. Kau mengajariku bahwa usia bukanlah penghalang untuk memelihara gaya hidup sehat. Tubuh boleh saja dimakan usia, tapi ketika semangat tetap berkobar kurasa itulah hakikat dasar kehidupan: menghargai tiap desah napas dengan terus bergerak karena hal tersebut sudah menjadi kodrat manusia sebagai makhluk dinamis.