Friday, October 31, 2014

Being Focused by Being Unfocused

Picture is taken from here
"Fokus, Sin, fokus!" Seketika teriakan temanku membuyarkan kesenanganku mengelus-elus koper sambil membayangkan diajak traveling oleh John Mayer. Ketika aku memalingkan wajah ke arahnya, semua mata sedang tertuju padaku (mungkin orang-orang itu sulit membedakan antara aku dan Miss Indonesia.. #apeu)

Kesadaranku pulih. Ternyata saat itu aku sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama temanku dengan maksud dan tujuan yang mulia membeli kostum (celana pendek dan tank top) untuk dipakai nge-gym. Temanku itu−sebut saja dia W−yang terkenal polos (cenderung blak-blakan), sedikit leled, tapi cantik dan imut (sepertiku #plak) entah sedang dirasuki roh nenek moyang Mario Teguh (*sembahhh*) hingga bisa−well, katakanlah−sebijak itu mengusik kesenanganku berimajinasi (re: mengembalikan kesadaranku).

Iya, tujuan kami memang ingin membeli kostum nge-gym, lantas kenapa aku malah mengelus-elus koper? Mungkin ini juga pertanyaan yang muncul di benak W saat melihatku terdistraksi dengan koper itu.

Distraction is everywhere! Dan sebagai seorang yang *ihiks* susah fokus itu adalah bencana. Sekali lagi: B-E-N-C-A-N-A!

Aku baru menyadari kekuranganku yang satu ini setelah teriakan maha dahsyat si W (ah, thanks, W, for "snapping" me right at my mind!) Bukan cepat menyimpulkan, tapi setelah diingat-ingat memang susah fokus adalah "penyakitku" (kamu juga? Jika iya, tini-tini tiummm... #apeu)

Banyak contoh sederhana yang sering terjadi selama ini (warning: don't expect me to focus here, I never eat cactus, my dear. FYI aja, sih):

Monday, October 27, 2014

Quarter Life Crisis

Picture is taken from here
Hai perempuan yang katanya lagi berurusan pelik dengan "Quarter Life Crisis",

Sebelumnya aku minta maaf jika tadi subuh aku izin tidur duluan karena mata yang tak lagi bisa diajak kompromi. Semoga kamu mengerti kalau aku punya jadwal kuliah pagi yang tak bisa seenaknya kutinggalkan. Tapi tenang saja, sebagai sahabat yang baik, semua curahan hatimu telah kutampung dan karena kamu minta nasihatku, inilah yang bisa kusampaikan...

Usia menjelang seperempat abad, tepatnya 23 tahun (ah, kamu masih muda, Sayang...) tapi tengah merasakan kemandekan atau lebih tepatnya kekosongan dalam hidup.

Kamu merasa hidupmu flat. Kamu belum bisa menjadi seseorang yang dulu (sejak kecil) kamu impikan.

Belum ada cincin melingkar di jari manismu sementara kamu diam-diam iri ketika melihat teman-teman masa kecilmu sudah menggendong bahkan mengantar-jemput anak mereka ke sekolah. Dan lagi, pertambahan usia (yang tak terelakkan) seperti seakan terus memburumu, menghantuimu dengan pertanyaan, "WHEN?"

Kamu juga masih disibukkan dengan perkuliahan pasca sarjana yang kamu sendiri pun sebenarnya tak mengerti untuk apa melanjutkan kuliah (katamu, mungkin hanya demi menyenangkan hati orangtua yang ingin anaknya sekolah setinggi-tingginya).

Kamu sudah teramat bosan dengan rutinitas sehari-hari yang seakan menghalangi keinginanmu untuk traveling ke tempat-tempat eksotis yang sebenarnya sudah lama ada di daftar most-visited-places milikmu.

Keinginanmu untuk belajar renang, ikut aerobic atau yoga, rutin jogging tiap pagi, dengan satu tujuan untuk tubuh yang sehat dan badan yang proporsional sepertinya hanya ada dalam angan karena pola tidur dan pola makan yang tidak teratur, bahkan lutut yang sering gemetar karena-entah-apa di siang hari.

Dalam pergaulan, teman-teman dekatmu usianya 5-8 tahun lebih muda darimu sehingga banyak yang mengira bahwa kamu juga masih seorang "anak kecil seperti mereka" meski sebenarnya tingkahmu tidaklah terlalu kekanakan.

Kamu pun masih, katakanlah, bergantung pada orangtuamu. Buktinya, kamu tak bisa tinggal jauh dari mereka walau keinginanmu untuk bisa punya rumah sendiri dan hidup mandiri sangat kuat. Mungkin kamu yang terlalu penyayang (atau orangtuamu yang terlalu memanjakanmu?)

Baiklah, itu tentang kamu, sejauh aku mengenalmu.

Sebagai sahabat, izinkanlah aku merecokimu dengan nasihat (sok bijak) dari hati.

Friday, October 17, 2014

Untuk J...

Ketakutan mencekam seisi ruangan itu. Orang-orang yang kukenal semuanya tegang dan pucat. Tak terkecuali aku, layaknya si penakut bernyali kecil sekecil batu dalam genggaman tangan kananku yang mau tak mau, nekad tak nekad siap menghantam kepala orang itu dengan batu tersebut jika ia menyakitiku.

Langkahnya pelan nan menakutkan. Semua mata enggan menatap langsung padanya. Takut jika ia menghampiri. Dan ia pun mulai bergerilya; mencari sasaran yang tepat untuk didatangi.

Tepat tiga baris dari tempatku duduk, seorang teman perempuan didekatinya. Lantas ditamparnya wajah temanku tanpa rasa bersalah sembari memakinya dengan kata-kata kasar. Tak ada kata yang keluar dari mulut temanku apalagi perlawanan. Ketika ia menjambak rambutnya, kulihat air matanya jatuh. Ia menangis. Kami semua pun ikut menangis dalam hati. Sungguh tega ia berbuat demikian terhadap temanku. Tapi tak ada rasa bersalah dari sorot matanya, yang ada hanyalah kekosongan.

Puas dengan aksi pertamanya, ia melanjutkan memilih korban berikutnya. Satu lagi teman perempuanku yang duduk tepat di depanku didekatinya.
Plakkk! "Sudah kukatakan lelaki itu berengsek! Kenapa kamu rela menjual 'tuhanmu' untuk dia? Dasar wanita murahan!" Plakkk!
Dua kali tamparan mendarat di pipi temanku, tapi ia hanya diam. Aura ketakutan semakin mencekam. Siapa korban selanjutnya? batinku berteriak.

Thursday, September 4, 2014

"Shake It Off!"

Picture is taken from here
Dengan kepala sedikit puyeng namun semangat (untuk menulis) yang meletup di dada aku mulai mengetikkan satu per satu kata di post ini. Sakit selama berhari-hari memang menyiksa! Tapi untunglah "masa suram" tersebut telah berlalu, dan aku merasa adalah suatu keharusan untuk mengisi blog yang sudah sebulan (lebih) dianggurin.

Lantas mau ngomongin apa?

Hmm...

Well, selama sakit aku jadi punya waktu untuk "bersantai". Waktu luang yang kuhabiskan dengan membaca "buku-buku ringan", berpikir untuk memotong rambut lebih pendek, dan mendengarkan lagu terbaru Taylor Swift yang berjudul "Shake It Off!" (*pura-pura lupa dengan ritual minum obat yang jumlahnya tak terhitung itu* :D)

Hmm, lupakan tentang "masa suram" tersebut, mari aku ceritakan sejenak tentang lagu Taylor Swift di atas. ^^

Ketika tahu (dari tweet di akun twitter-nya) kalau Taylor Swift baru saja merilis single terbarunya berjudul "Shake It Off!" aku begitu senang dan langsung saja mengunjungi Tante Youtube (yes, kalau Google disebut "Om", maka tak apalah jika Youtube kusebut "Tante" :D). Dan seperti yang selalu terjadi saat pertama kali aku mendengarkan lagu terbaru Taylor Swift, aku langsung jatuh cinta! (Consider that I'm a big fan of Taylor Swift since I was born :p) Bukan hanya pada suara yang menurutku unik, musik yang nge-beat dan asyik didengar, namun liriknya juga T-O-P-B-G-T!

Dalam lagu "Shake It Off!", Taylor Swift seperti ingin sedikit "menggoda" para haters-nya yang tak henti-henti mencela tentang lagu-lagunya yang dinilai diangkat dari kehidupan percintaannya yang semuanya kandas di tengah jalan. Tapi itulah yang kusuka dari Taylor Swift, ia membalas celaan dengan karya. "Hidup toh berkarya aja. Soal disukai atau kagak itu mah urusan belakangan. Kalo ada yang sampe membenci, itu nanti urusan mereka sama yang Di Atas." Mungkin ini kata Taylor Swift dalam hati. Hihii... :D

Pesan dalam lagu "Shake It Off!" begitu nyantol di hatiku. Whatever people say and think about you, just say "It's gonna be alright," just shake it off! Shake it off! Hohohohoo...

Friday, August 1, 2014

Oops! Jaga Jarak!

Picture is taken from here
Di suatu sore saat aku sedang diajari menyetir oleh Papaku, aku begitu antusias sampai rasa-rasanya ingin menyalip semua kendaraan yang ada di depanku. Tak heran, umurku saat itu baru 17 tahun hingga keinginan untuk menunjukkan ke seluruh dunia bahwa aku bisa menyetir (bahkan balapan) begitu meluap. Aku ingin mereka yang melihatku terkagum, terperangah, dan kemudian memujiku dengan berucap: "WOW!" Itulah keinginan (yang tampaknya mengada-ada) untuk seorang remaja. Haha.

Papaku jelas saja dengan penuh ketenangan menasihatiku untuk menjaga jarak dengan kendaraan di depanku.

JAGA JARAK, kata kunci yang terus kuingat sampai sekarang. Aku setidaknya harus menjaga jarak sekitar 5 meter di belakang kendaraan yang ada di depanku supaya ketika kendaraan tersebut mengerem mendadak, aku bisa terhindar dari tabrakan dengannya. Nasihat yang awalnya kuabaikan namun kemudian terpatri dalam ingatanku karena aku hampir saja (dengan bodohnya) menabrak saat itu.