Saturday, January 31, 2015

A Letter to A Stranger

Hai si pemilik suara bariton dan bau khas lelaki yang entah kenapa mencuri perhatianku tadi...

"Kehadiranmu" yang sejenak dan tentu saja tak disengaja telah berhasil menyeretku pada dua hal yang ingin sekali kusampaikan: "Hai..." dan "Why?". Tapi ± 27 menit "kesempatan emas" itu kusia-siakan karena aku engganlebih tepatnya merasa lancangjika dua kata tersebut kuutarakan. Siapalah aku ini? Hanya orang asing yang kebetulan kau "kagetkan" dengan pertanyaan "Boleh pinjam botol kecapnya?" Jadi, keberanianku hanya bisa kutunjukkan lewat menulis surat ini (ya, meskipun aku sadar kau mungkin takkan pernah membacanya).

Dalam hidup, mungkin hanya 0,0001% pertemuan dengan orang asing yang akan meninggalkan kesan. Maaf, aku baru saja mengarang soal persentase tersebut, tapi katakanlah memang demikian. Dan tahukah kau? Pertemuan tadi termasuk dalam 0,0001% itu. Oleh karena itu izinkan aku menempatkan diriku sebagai seorang yang kau kenal yang hendak bercerita padamu. Bolehkah?

Saturday, January 24, 2015

Tentang Bawang Merah dan Bla-bla-bla Lainnya


credit
"Tan, ada dabu-dabu* yang ndak pake bawang merah?"
"Hah? Kamu ndak suka bawang?"
"Iya."
Aku kemudian tersenyum simpul sambil menatap wajah ibu temanku yang masih keheranan setelah mengetahui kalau aku tidak suka bawang. Menurutnya ada yang aneh denganku karena sepengetahuannya hampir semua orang tergila-gila sama yang namanya bawang.

Lucu juga ketika seseorang di-judge "aneh" atau bahkan "abnormal" hanya karena tidak menyukai sesuatu yang bagi sebagian besar orang adalah hal yang sangat sangat disukai. Diam-diam aku "tertawa" dalam hati.

Lalu di kesempatan lain...
"Sekuel terbaru The Hunger Games udah tayang di bioskop, ayo nonton!"
"Si selebtwit ini nerbitin buku baru, ayo buruan beli dan baca!"
"Kamu belum nonton 'Stand by Me, Doraemon'? Hihhh ketinggalan!"
"Kayaknya asyik nih begadang sampe pagi sambil nonton drama Korea ini. Kamu pasti bakal tergila-gila sama pemeran cowoknya!"
"Kamu kok ndak follow si ini, itu, sama si anu di twitter? Tweets mereka keren, followers-nya juga udah bejibun."
Dan masih banyak ajakan lainnya yang semuanya kujawab dengan 3 kata kunci: "Maaf, ndak tertarik."

Hingga label seperti: "Ndak gaul," "ndak asyik," "freak" dan bla-bla-bla lainnya gonta-ganti masuk di telinga.

Jujur saja...

Friday, November 7, 2014

(Bukan) Kejutan di Malam Halloween

Malam Halloween lalu aku sempat terusik dengan satu BBM dari seorang senior di tim paduan suara yang kuikuti. Namanya Tante V namun aku lebih akrab menyapanya Kak V. Seorang perempuan 50 tahun (mungkin?) yang berjiwa muda, gaul, dengan jambul khatulistiwow-nya.

Bunyi BBM-nya kira-kira begini:
"S, udah accept request dari RT, belom?"
Sedikit tersentak karena tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja Kak V menanyakan lelaki-alien-dari-Pluto (mungkin?) yang sama sekali tidak kukenal. Aku lantas mencoba mengingat-ingat nama itu.
Kira-kira beginilah ekspresiku ketika mencoba mengingat (?) *gambar dicomot dari sini
RT? RT? RT? Ohh... Yang invite aku tadi siaaang...
Maka bergulirlah percakapan antara aku dan Kak V di BBM...

Friday, October 31, 2014

Being Focused by Being Unfocused

Picture is taken from here
"Fokus, Sin, fokus!" Seketika teriakan temanku membuyarkan kesenanganku mengelus-elus koper sambil membayangkan diajak traveling oleh John Mayer. Ketika aku memalingkan wajah ke arahnya, semua mata sedang tertuju padaku (mungkin orang-orang itu sulit membedakan antara aku dan Miss Indonesia.. #apeu)

Kesadaranku pulih. Ternyata saat itu aku sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama temanku dengan maksud dan tujuan yang mulia membeli kostum (celana pendek dan tank top) untuk dipakai nge-gym. Temanku itu−sebut saja dia W−yang terkenal polos (cenderung blak-blakan), sedikit leled, tapi cantik dan imut (sepertiku #plak) entah sedang dirasuki roh nenek moyang Mario Teguh (*sembahhh*) hingga bisa−well, katakanlah−sebijak itu mengusik kesenanganku berimajinasi (re: mengembalikan kesadaranku).

Iya, tujuan kami memang ingin membeli kostum nge-gym, lantas kenapa aku malah mengelus-elus koper? Mungkin ini juga pertanyaan yang muncul di benak W saat melihatku terdistraksi dengan koper itu.

Distraction is everywhere! Dan sebagai seorang yang *ihiks* susah fokus itu adalah bencana. Sekali lagi: B-E-N-C-A-N-A!

Aku baru menyadari kekuranganku yang satu ini setelah teriakan maha dahsyat si W (ah, thanks, W, for "snapping" me right at my mind!) Bukan cepat menyimpulkan, tapi setelah diingat-ingat memang susah fokus adalah "penyakitku" (kamu juga? Jika iya, tini-tini tiummm... #apeu)

Banyak contoh sederhana yang sering terjadi selama ini (warning: don't expect me to focus here, I never eat cactus, my dear. FYI aja, sih):

Friday, August 1, 2014

Oops! Jaga Jarak!

Picture is taken from here
Di suatu sore saat aku sedang diajari menyetir oleh Papaku, aku begitu antusias sampai rasa-rasanya ingin menyalip semua kendaraan yang ada di depanku. Tak heran, umurku saat itu baru 17 tahun hingga keinginan untuk menunjukkan ke seluruh dunia bahwa aku bisa menyetir (bahkan balapan) begitu meluap. Aku ingin mereka yang melihatku terkagum, terperangah, dan kemudian memujiku dengan berucap: "WOW!" Itulah keinginan (yang tampaknya mengada-ada) untuk seorang remaja. Haha.

Papaku jelas saja dengan penuh ketenangan menasihatiku untuk menjaga jarak dengan kendaraan di depanku.

JAGA JARAK, kata kunci yang terus kuingat sampai sekarang. Aku setidaknya harus menjaga jarak sekitar 5 meter di belakang kendaraan yang ada di depanku supaya ketika kendaraan tersebut mengerem mendadak, aku bisa terhindar dari tabrakan dengannya. Nasihat yang awalnya kuabaikan namun kemudian terpatri dalam ingatanku karena aku hampir saja (dengan bodohnya) menabrak saat itu.